Malang (beritajatim.com) – Penelitian dari dosen Universitas Islam Malang (Unisma) mengungkap formula penting untuk mencetak guru inovatif di era digital. Di saat banyak pihak fokus pada penguasaan teknologi, riset ini membuktikan bahwa kunci kesuksesan seorang pendidik profesional terletak pada kecakapan teknis dan penguasaan soft skills yang terintegrasi dengan kecerdasan emosional.
Penelitian berjudul “Peran Soft Skills dalam Membentuk Kompetensi Profesional Guru Inovatif Mahasiswa PPG Prajabatan di Era Digital” ini didanai melalui program Hibah Institusi Universitas Islam Malang (HI-ma). Dipimpin oleh Ketua Peneliti Dr. Sunismi, M.Pd., bersama anggota peneliti Gusti Firda Khairunnisa, M.Pd., riset ini memberikan peta jalan baru bagi pengembangan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) termasuk di PPG CALON GURU FKIP UNISMA di Indonesia.
Dr. Sunismi memaparkan bahwa temuan inti penelitiannya menunjukkan adanya hubungan yang kompleks. Namun signifikan antara soft skills, kecerdasan emosional, dan kompetensi inovatif guru.
“Kami menemukan bahwa soft skills seperti Communicative Collaboration Competence (CCC), Creative Problem Solving (CPS), Critical Digital Competence (CDC), dan Ethical Professionalism & Flexibility (EPF), semuanya berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Innovative Educator Competence (IEC) atau kompetensi pendidik inovatif,” jelas Dr. Sunismi, kepada beritajatim.com, Senin (4/8/2025).
Namun, yang menjadi temuan paling menarik adalah peran Emotional Intelligence (EQ) sebagai variabel mediator. EQ terbukti menjadi jembatan psikologis yang signifikan pada dua jalur spesifik. Pertama, dari Komunikasi Kolaboratif (CCC) menuju Kompetensi Inovatif (IEC). Kedua, dari Profesionalisme Etis & Fleksibilitas (EPF) menuju Kompetensi Inovatif (IEC).
“Ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dapat secara efektif menjembatani pengaruh komunikasi dan etika profesional terhadap kemampuan guru untuk berinovasi. Sebaliknya, kreativitas (CPS) dan keterampilan digital (CDC) belum tentu meningkatkan kompetensi inovatif melalui jalur emosional,” tegasnya.
Fakta ini menantang asumsi umum bahwa kemampuan berpikir kreatif dan digital selalu selaras dengan sisi afektif guru. Sekaligus menyoroti pentingnya interaksi sosial dan nilai etika dalam membentuk kecerdasan emosional calon guru.
Menurut Dr. Sunismi, penelitian ini menjadi sangat penting dan mendesak dilakukan karena beberapa alasan fundamental yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menegaskan bahwa soft skills adalah fondasi kompetensi guru inovatif, sementara kecerdasan emosional (EQ) menjadi kunci keberhasilan inovasi tersebut.
“Kebutuhan guru di abad ke-21 telah berubah drastis. Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi, tetapi dituntut menjadi fasilitator yang inovatif, reflektif, dan adaptif,” ujarnya.
Selain itu, riset ini mengisi kekosongan ilmiah (rsearch gap) di konteks PPG Indonesia dan Asia Tenggara, yang sebelumnya jarang meneliti peran mediasi EQ secara mendalam. “Temuan ini memberikan dasar empiris untuk mendesain kurikulum PPG yang lebih komprehensif dan holistik,” tambah Dr. Sunismi.
Hasil penelitian ini menggambarkan hubungan nyata antara penguasaan soft skills dengan kemampuan seorang guru untuk berinovasi di dalam kelas. Guru yang menguasai CCC dan EPF tidak hanya mampu berinovasi secara teknis, tetapi juga menumbuhkan empati dan kesadaran diri yang mendorong pengambilan keputusan yang responsif terhadap kebutuhan siswa.
Sementara itu, penguasaan CPS dan CDC berperan penting dalam inovasi kognitif dan teknologi, seperti mengembangkan strategi pembelajaran kreatif dan memanfaatkan teknologi. Namun, tanpa didukung oleh CCC, EPF, dan EQ, inovasi tersebut berisiko menjadi kurang manusiawi dan tidak berpusat pada peserta didik.
Rekomendasi Praktis untuk Mahasiswa PPG Prajabatan
Berdasarkan temuan ini, Gusti Firda Khairunnisa, M.Pd memberikan lima rekomendasi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para mahasiswa PPG untuk mempersiapkan diri mereka.
Pertama, aktif membangun komunikasi dan kolaborasi (CCC). Dengan terlibat aktif dalam diskusi, kerja kelompok, dan proyek microteaching untuk melatih komunikasi terbuka dan konstruktif.
Kedua, melatih refleksi EQ. Luangkan waktu membuat jurnal refleksi rutin untuk mencatat pengalaman, perasaan, dan cara menangani situasi sulit. Ketiga, membiasakan diri hadapi dilema (EPF), ikut serta dalam simulasi pembelajaran atau studi kasus yang menampilkan dilema etis dan situasi tak terduga untuk melatih ketangguhan dan profesionalisme.
Keempat, mengasah kreativitas merancang pembelajaran (CPS) dengan coba kembangkan media ajar kreatif atau skenario pembelajaran berbasis masalah yang kontekstual. Kelima, meningkatkan literasi digital kritis dan empatik (CDC). Gunakan teknologi untuk membangun interaksi yang bermakna, bukan sekadar menyampaikan materi.

“Temuan kami membawa implikasi signifikan bagi kurikulum PPG, khususnya di lingkungan Universitas Islam Malang. Program PPG direkomendasikan untuk mengintegrasikan penguatan soft skills secara sistematis, menerapkan metode pembelajaran berbasis kolaborasi dan refleksi, menyediakan pelatihan kecerdasan emosional, serta mengarahkan penggunaan teknologi pada pendekatan digital yang humanis dan etis,” ujar Gusti Firda.
Penelitian ini juga selaras dengan visi Universitas Islam Malang, Menjadi universitas unggul bertaraf internasional, berorientasi masa depan… untuk kemaslahatan umat yang berakhlakul karimah.
“Dengan mempersiapkan calon guru yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga beretika, empatik, dan fleksibel, penelitian ini secara langsung mendukung visi UNISMA untuk melahirkan pendidik berkualitas demi kemaslahatan umat serta membentuk insan berakhlakul karimah,” jelas Dr. Sunismi di sisi lain menutup penjelasan. [dan/aje]






