Ponorogo (beritajatim.com) – Riasan pengantin khas Ponoragan tidak boleh punah. Itulah statmen tegas dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi. Riasan khas yang merupakan budaya asli Kabupaten Ponorogo harus tetap lestari dan bisa diteruskan hingga nanti sampai anak cucu. Untuk merealisasikan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) lewat Disbudparpora mengadakan workshop Pengantin Ponoragan.
” Adanya workshop Pengantin Ponoragan bisa menjadi upaya untuk mempertahankan budaya khas Ponorogo. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian perayaan Grebeg Suro dan peringatan hari jadi ke-526 Ponorogo,” kata Judha, Selasa (19/7/2022).
Workshop Pengantin Ponoragan juga masuk dalam Ponorogo Creative Festival. Dimana didalamnya untuk melakukan eksplorasi untuk model, tata rias, tata busana, hingga ekonomi kreatif, mulai kerajinan hingga kuliner. Puncaknya digelar mulai tanggal 22-23 Juli 2022 di jalan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto.
“Kegiatan ini juga masuk dalam Ponorogo Creative Festival. Workshop yang memberikan materi tentang manten Ponoragan,” ungkap Judha.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Bertempat di Gedung Sasana Praja, workshop pengantin ponoragan ini diikuti sekitar 30 pelaku usaha make up artist (MUA) di bumi reog. Judha menyebut bahwa Kabupaten Ponorogo punya ciri khas tersendiri untuk tata rias manten. Ada riasan yang melekat khas roso (rasa) Ponorogo-nya.
“Tata rias khas ini memang perlu diworkshopkan. Supaya gagak Ponoragan tidak punah,” katanya.

Menurut Judha, workshop ini sebagai proses transmisi kepada para pelaku usaha tata rias atau MUA di Ponorogo. Tentu dalam workshop ini ada pembelajaran dan pelatihan.
“Pengantin Ponoragan perlu lestari dan perlu regenerasi, dan kegiatan ini upaya untuk itu,” pungkasnya. [end/but]






