Malang (beritajatim.com) – Pawon Yang Kung resto dan cafe yang berlokasi di jalan Ikan Gurami 12, Tunjungsekar kota Malang ini baru saja melakukan opening. Warung makan ini menyajikan berbagai menu makanan tradisional, salah satu yang menjadi unggulan adalah mangut.
Mangut punya empat variasi yaitu, mangut ayam, bebek, ikan lele, dan ikan pe. “Kami bergerak di mangutan, itu nanti jadi keunggulan. Mangutnya juga ada topping, ada yang sifatnya pakai smokey, jadi diasapi, begitu dibuka mangutnya keluar asap. Rasanya luar biasa tidak dijumpai di tempat lain,” kata Erdianto Sigit Cahyono selaku owner Pawon Yang Kung saat pembukaan.
Selain makanan tradisional, ada juga minuman kesehatan seperti kunyit asam, beras kencur yang dimodifikasi dengan flop. Makanan dan minuman tersebut, kata Sigit, akan mampu menjamah semua golongan termasuk anak-anak muda.
Baca Juga: Publisher Right Posisikan Pers dan Platform Adil dan Setara
Pawon Yang Kung juga memberikan kenyaman berupa suasana segar alam pedesaan yang berpadu dengan kolam ikan koi, pemandangan sawah, gunung, kafe rooftop, dan gazebo dari anyaman bambu. Setiap tamu yang datang, lanjut Sigiti, akan disajikan welcome food atau makanan selamat datang secara gratis.
“Tak hanya itu, kita juga menyajikan olahraga , ada spot untuk latihan menembak. Kita bekerjasama dengan HSC atau Hipakad Shooting Club untuk latihan menembak ini. Pengunjung juga bisa sambil latihan menembak,” ujarnya.
Makanan tradisional di Pawon Yang Kung sangat terjangkau. Untuk minuman mulai dari harga 10.000 Rupiah sampai 18.000 Rupiah. Sementara makanan di banderol dari harga 20.000 sampai 65.000 Rupiah. Ada juga makanan ringan dari harga 5.000 sampai 20.000 Rupiah.

“Cita cita kami ingin jadi kuliner ikon dari kota Malang. Jadi orang kalau ke Malang mau makan tradisional sambil olahraga menembak ya tempat di Pawon Yang Kung,” jelas pria yang sebelumnya berkarir selama 36 tahun di perbankan tersebut.
Baca Juga: Guru Besar ITS Kembangkan Alat dalam Analisis Artefak Rekayasa Perangkat Lunak
Sigit melanjutkan, nama tempat Yang Kung terinspirasi dari statusnya saat ini menjadi Eyang Kung. “Kami waktu mendirikan, awalnya bingung. Saya punya cucu dia manggilnya eyang kung, jadi sekalian namanya Yang Kung, nanti semoga bisa buka cabang ada Yang Uti. Saya sendiri sebenarnya senang masak, disuruh masak, saya siap,” katanya.
Ia menjelaskan ide awal pembuatan tempat ini terbesit saat Sigit beranjak pensiun. Jika selama 36 tahunan dirinya menjadi pencari kerja, maka di masa pensiun dia ingin menjadi penyedia lapangan pekerjaan.
“Ini ya untuk mengisi aktivitas saya di masa pensiun. Cita-cita saya bisa memberi lapangan pekerjaan kepada orang. Prinsip kami di usia tua itu harus bisa membuat Urip Iku Urup, maka inilah yang kami lakukan,” pungkas Sigit yang juga dikenal memiliki sejumlah usaha lain. (dan/ian)






