Surabaya (beritajatim.com) – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur terus memperkuat strategi digital dalam pencegahan stunting.
Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Maria Ernawati menyatakan bahwa layanan konsultasi daring melalui platform www.siapbahagia.com kini menjadi ujung tombak edukasi keluarga dan parenting di wilayahnya.
“Responsnya luar biasa. Dari 38 kabupaten/kota, dalam sebulan kami bisa menerima hingga 3.000 klien. Bahkan sekarang sudah menjangkau masyarakat di luar Jatim,” kata Maria, Sabtu (12/7/2025).
Maria menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari klasifikasi penyebab yang tepat. “Kita harus tahu dulu, stunting ini karena kemiskinan, pola asuh, penyakit bawaan, atau lingkungan? Karena pendekatannya harus berbeda,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalamannya saat bertugas di Sulawesi Tengah. Meski wilayah itu penghasil ikan, kasus stunting tetap tinggi karena persepsi keliru soal gizi. “Ikan dijual semua, anaknya dikasih mie instan plus topping ikan. Ini yang harus diluruskan,” ungkapnya.
Perwakilan BKKBN Jatim sendiri terus berupaya menekan angka prevalensi stunting di seluruh wilayah Jatim. Salah satunya lewat kegiatan fasilitasi teknis Program Bangga Kencana yang diselenggarakan di Kota Madiun.
Kegiatan di Madiun diikuti ratusan peserta dari 10 kabupaten/kota di Jawa Timur, seperti Madiun, Probolinggo, Kediri, Tulungagung, dan lainnya. Fokus kegiatan ini adalah memperkuat sinergi percepatan penurunan stunting menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh turut hadir dan menekankan pentingnya peran perempuan dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). “Penanganan 1.000 hari pertama kehidupan anak adalah kunci. Pemerintah dan masyarakat, terutama kaum ibu, harus bersinergi,” jelasnya.
Senada, Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono menyebut bahwa kualitas SDM tidak bisa hanya diserahkan kepada negara. “Indonesia hanya akan maju kalau rakyatnya bergerak. Karena itu, ibu-ibu harus jadi garda depan,” tegasnya.
Ia juga memperkenalkan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah untuk menumbuhkan ikatan emosional dalam keluarga. “Jika ayah hadir, anak merasa didukung dan lebih percaya diri,” ujarnya.
Budi juga mengingatkan dampak jangka panjang stunting yang dapat merusak masa depan anak dari segi fisik, pendidikan, dan sosial. “Anak yang lahir stunting akan menghadapi ketertinggalan sepanjang hidupnya. Ini tanggung jawab kita semua,” imbuhnya.
Dalam kegiatan ini, Kota Madiun mendapat apresiasi karena berhasil menekan angka prevalensi stunting hingga 11 persen, lebih baik dari rata-rata provinsi yang berada di 14,7 persen. Namun Maria mengingatkan agar capaian ini tidak membuat lengah. [ipl/beq]






