Ponorogo (beritajatim.com) – Keluar kerja dari lembaga keuangan di Ponorogo tidak membuat Ellis Risfantina Kartikasari menyesal.
Berawal dari coba-coba membuat sambal untuk mencari kesibukan setelah resign, Ellis ternyata mendapatkan berkah dari usaha itu.
Ya, warga Jalan Trunojoyo Kelurahan Tambakbayan itu sukses menjual beraneka varian sambal hasil racikannya sendiri. Sedikitnya sudah ada 17 varian sambal yang Ia beri merk sambal Mumase tersebut.
“Awalnya sih untuk mencari kesibukan setelah resign, ehh ini malah keterusan jadi usaha yang saya jalani,” kata Ellis, sapaan akrab Ellis Risfantina Kartikasari, Sabtu (23/4/2022).
Ide membuat sambal itu pertama kali tercetus ketika dirinya melihat postingan kakak tingkatnya ketika kuliah menjual sambal di sosial media (sosmed) tahun 2018 lalu.
Nah, karena Ellis memang suka masak dan makan, akhirnya dirinya saat itu membuat sambal ikan peda. Membuat pertama kali itu, tidak langsung dijual. Dia ingin tes pasar dulu, dengan mengirim sambal tersebut ke teman terdekat.
“Alhamdulillah responnya bagus, enak katanya sambal buatanku,” katanya.
Untuk melangkah jauh diusaha sambali ini, Ellis coba berguru dengan kakak tingkatnya tersebut. Dia ingin tahu bagaimana cara supaya sambal awet tanpa pengawet dan micin. Dari kakak tingkatnya itu, Ellis bisa mengetahuinya, hingga dipraktekkan untuk membuat sambal dengan varian lain-lainnya.
“Jadi ya mbeguru kepada kakak tingkat semasa kuliah, bagaimana caranya membuat sambal yang awet tapi tanpa pengawet dan MSG,” katanya.
Tidak kurang akal, promosi dan pemasaran sambal milik Ellis pun lewat para reseller usaha fashionnya. Jauh sebelum membuat usaha sambal ini, ternyata Ellis mempunyai usaha dropship fashion dan sudah memiliki banyak reseller. Ketika mereka order pakaian, disitulah Ellis memasukkan sambal ke dalam paket untuk dicoba.
“Strategi marketing itulah yang membuat pesanan sambal saya mulai ada, tidak hanya di Ponorogo tapi bisa sampai luar daerah hingga luar pulau Jawa,” katanya.
Supaya tidak monoton dengan satu varian rasa, Ellis akhirnya berhasil mengembangkan dengan memiliki sedikitnya 17 varian sambal. Mulai dari sambal ikan peda, cumi, baby cumi, udang, teri, pete, kluwak, bawang, terasi, ijo, kurma, paru, tetelan sapi, lele asap, tuna, tongkol, dan kemiri. Dari semua varian itu, hanya ada tiga varian sambal yang jarang dipesan. Yakni sambal bawang, terasi, dan ijo.
“Mungkin ketiga sambel tersebut sudah familiar bagi konsumen dan mereka bisa membuatnya sendiri,’’ jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm-ponorogo”]
Untuk harganya sendiri, sambal milik Ellis dibandrol mulai Rp 14 ribu hingga Rp 32 ribu perbotol, tergantung dengan varian sambel dan ukuran botol. Sebab, tiga ukuran botol yang digunakan, mulai 100 gram, 150 gram, dan 200 gram. Yang paling favorit dan mahal, sambal baby cumi. Karena untuk mendapatkan baby cumi tersebut cukup sulit. Seperti pete, adanya ketika sudah musim saja.
“Bahan baku sambal untuk varian seafood, saya mendatangkan langsung dari Tulungagung,’’ katanya.
Bulan Ramadan ini ternyata membawa rejeki lebih untuk Ellis. Jika biasanya sekali membuat sambal bahannya 12 kg, kini naik tiga kali lipatnya menjadi 32 kg. Dia mendapatkan pesanan yang jangkauannya cukup luas. Mulai dari Batam, Riau, Jambi, Palembang, Balikpapan, Ketapang, Pontianak, Lombok, Bali, dan paling banyak dari pulau Jawa. Untuk meningkatkan omzet penjualan sambal, Ellis membuat parcel sambal lebaran. Satu parcel terdapat enam sambal dengan ukuran sedang, untuk varian sambalnya bisa sesuai dengan permintaan pemesan.
“Untuk parcel sambal lebaran, sudah ada yang pesan sekitar 100 orang. Potensi bisa nambah lagi, karena masih saya buka hingga mendekati lebaran,” pungkasnya. (end/ted)






