Pacitan (beritajatim.com) – Serangkaian peristiwa tragis terjadi di kawasan wisata Pantai Pancer dan Teleng Ria, Pacitan, Jumat (20/6/2025), yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa.
Penggiat lingkungan sekaligus Ketua Pokdarwis Pancer, Slamet Riyadi alias Cuboh Hambers, mengaku syok atas kejadian yang berlangsung hanya dalam satu hari itu.
Cuboh yang tinggal di kawasan wisata Pancer Dorr menceritakan, dirinya pertama kali ikut mengevakuasi jasad seorang wanita tanpa busana di Pantai Teleng Ria pada pukul 05.30 WIB. Peristiwa itu sontak mengejutkannya, apalagi tak lama setelah membantu proses evakuasi, ia kembali dikejutkan dengan laporan adanya empat wisatawan tenggelam di muara Sungai Grindulu, kawasan Pancer. Semua korban berjenis kelamin perempuan.
“Ini fenomenal bagi kami yang biasa di sini. Dalam sehari ada dua kejadian, semua korbannya perempuan, dan terjadi beruntun,” ujarnya Sabtu (21/6/2025).
Cuboh menjelaskan, kondisi muara Sungai Grindulu saat ini memang tidak seperti biasanya. Aliran sungai yang sebelumnya berada di sebelah timur, kini bergeser ke barat dan mengikis sejumlah fasilitas di kawasan wisata. Meski dari permukaan tampak tenang, arus bawah muara sangat deras dan berputar ke arah laut. Bahkan meski kedalaman muara hanya sekitar satu meter, tak jauh dari situ terdapat palung laut yang dalam dan berbahaya.
“Dari atas terlihat biasa saja, tapi arus bawah sangat kuat dan bisa menyeret siapa pun. Ini yang sering tidak disadari pengunjung,” jelas pria yang juga dikenal sebagai peselancar itu.
Cuboh juga menyoroti minimnya kesadaran wisatawan terhadap rambu larangan berenang yang telah dipasang di beberapa titik. Menurutnya, banyak wisatawan dari luar kota yang tidak familiar dengan bahaya laut, sehingga langsung tergoda untuk berenang tanpa mempertimbangkan risiko.
“Mereka mungkin tidak membaca rambu, atau bahkan tidak memperhatikannya. Kebanyakan pengunjung dari luar daerah yang tidak punya pantai, jadi begitu lihat air langsung ingin berenang,” ungkapnya.
Terkait keberadaan penjaga pantai atau lifeguard, Cuboh menyebut hanya ada tiga orang yang bertugas di kawasan pantai yang panjangnya mencapai ratusan meter. Lebih lanjut, ia menyebut SOP lifeguard lebih fokus pada pemantauan di laut terbuka, bukan di muara sungai padahal beberapa kejadian justru sering terjadi di muara. “Petugas cuma tiga orang. Fokus mereka ke pantai, sementara kejadian seperti ini justru sering di muara,” katanya.
Sepanjang tahun 2025, Cuboh mencatat sudah ada tiga kejadian tenggelam di kawasan Pancer dan Teleng Ria yang menyebabkan lima orang meninggal dunia.
Ia pun menghimbau kepada para wisatawan untuk selalu mematuhi rambu-rambu larangan dan tidak segan berkonsultasi kepada warga lokal atau pedagang setempat terkait titik-titik yang aman untuk bermain air. “Liburan itu penting, tapi keselamatan harus jadi prioritas,” pungkasnya.
Musibah tragis terjadi di Pantai Pancer Door, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat (20/6/2025) pagi. Empat wisatawan asal Mojokerto dilaporkan terseret arus saat bermain air di muara sungai. Korban meninggal dunia diketahui bernama Azmil Mukarromah (45), warga Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto bersama anak dan keponakannya. (tri/kun)






