Blitar (beritajatim.com) – Lembaga legislatif di Blitar Raya tengah menjadi sorotan tajam publik menyusul dua skandal asmara yang mencuat nyaris bersamaan. Ironisnya, kasus ini menjerat anggota dewan di dua wilayah berbeda yakni DPRD Kabupaten Blitar dan DPRD Kota Blitar.
Di Kabupaten Blitar, seorang anggota dewan terseret dalam pusaran dugaan skandal nikah siri dan penelantaran anak. Sementara di Kota Blitar, seorang legislator dilaporkan tersandung kasus dugaan perselingkuhan dengan sesama anggota dewan.
Dalam ilmu psikologi, skandal yang menjerat legislator Kota dan Kabupaten Blitar ini ada kaitannya dengan kekuasaan. Psikolog asal RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Yeni Rofiqoh menyebut jika dilihat dari teori tentang relasi kekuasaan, jabatan yang dipegang seseorang bisa memicu perubahan psikologis.
“Mungkin bisa dikatakan, saat memiliki kekuasaan maka muncul dalam diri mereka yang berkuasa untuk pantas dan boleh mendapatkan kepuasan dari hal yang mereka inginkan,” jelas Yeni saat dihubungi pada Rabu (22/10/2025).
Secara psikologis, kata dia, kebutuhan individu tersebut untuk mendapatkan kepuasan cenderung meningkat, baik dari sisi tingkatan maupun jenisnya. Kekuasaan bisa membuka pintu bagi hasrat yang sebelumnya terpendam atau terkontrol.
Sehingga ketika seseorang mendapatkan kekuasaan, peluang untuk meluapkan hasrat yang sebelumnya terkontrol justru lebih besar. Belum lagi adanya pemahaman tentang kekuasaan bisa mengatur dan menyelesaikan permasalahan termasuk jerat asmara, tentu membuat pemilik kekuasan jauh lebih tidak terkontrol.
“Jadi secara psikologis, kebutuhan mereka untuk mendapatkan kepuasan meningkat. Baik meningkat tingkatan maupun jenis hal yang bisa memberikan kepuasan,” terangnya.
Meski demikian, Yeni menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah satu-satunya faktor penentu. Pada akhirnya, perilaku individu akan kembali pada integritas dan nilai-nilai yang dipegang oleh orang tersebut.
“Namun memang tetap bagaimana seseorang memegang nilai, prinsip, dan kepantasan akan berbeda-beda dalam perilaku nyata,” tegasnya.
Yeni menyimpulkan bahwa skandal semacam ini menunjukkan bagaimana kontrol perilaku seseorang diuji saat memegang jabatan.
“Kontrol perilaku memang tidak lepas dari pengalaman yang dialami sebelumnya dan bagaimana menyikapi pengalaman tersebut untuk membentuk perilaku yang lebih bermakna buat dirinya,” tutupnya. [owi/beq]






