Surabaya (beritajatim.com) – Rekaman video yang baru dirilis memperlihatkan momen rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat menghantam fasilitas militer di dekat sebuah sekolah dasar perempuan di Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun.
Video yang pertama kali dipublikasikan oleh Mehr News Agency Iran itu kemudian diautentikasi oleh organisasi investigasi terbuka Bellingcat.
Berdasarkan hasil verifikasi lokasi, rekaman tersebut menunjukkan serangan terjadi pada 28 Februari di kawasan Minab, Iran selatan.
Dalam rekaman tersebut terlihat asap sudah membubung dari sekitar Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh ketika rudal menghantam fasilitas angkatan laut milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang berada di dekatnya.
Bellingcat menyebutkan bahwa jenis rudal yang terlihat dalam rekaman adalah rudal jelajah Tomahawk. Organisasi tersebut menegaskan bahwa dalam konflik yang sedang berlangsung, hanya Amerika Serikat yang diketahui mengoperasikan senjata tersebut, sementara Israel tidak menggunakan rudal Tomahawk dalam arsenal militernya.
Temuan ini memperkuat sejumlah laporan media internasional seperti The New York Times, CNN, CBC News, dan NPR yang sebelumnya mengindikasikan bahwa militer Amerika Serikat kemungkinan bertanggung jawab atas serangan tunggal paling mematikan terhadap warga sipil sejak konflik pecah pada 28 Februari.
Trump Salahkan Iran
Sehari sebelum video tersebut beredar luas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyalahkan Iran atas serangan yang menghancurkan sekolah tersebut.
Dalam keterangannya kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada 7 Maret, Trump mengatakan pihaknya menduga Iran sebagai pelaku.
“Kami pikir itu dilakukan oleh Iran. Karena mereka sangat tidak akurat, seperti yang Anda tahu, dengan amunisi mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki akurasi,” kata Trump seperti dikutip Politico.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyatakan bahwa Iran merupakan pihak yang kerap menargetkan warga sipil. Meski demikian, ia menegaskan penyelidikan resmi masih terus berlangsung.
“Satu-satunya pihak yang menargetkan warga sipil adalah Iran,” ujarnya.
Penyelidikan Independen
Namun klaim tersebut dibantah oleh sejumlah hasil penyelidikan independen. Kantor berita Reuters pada 5 Maret melaporkan bahwa dua pejabat militer AS yang mengetahui proses investigasi internal menyebutkan kemungkinan besar serangan tersebut berasal dari pasukan Amerika Serikat sendiri.
Analisis lain dari CNN juga menemukan bahwa waktu serangan terhadap sekolah tersebut bertepatan dengan serangan presisi terhadap pangkalan IRGC yang berada di dekatnya.
Video yang telah dilacak lokasinya menunjukkan asap membumbung dari dua lokasi tersebut secara bersamaan, mengindikasikan keduanya terkena dampak dalam waktu hampir bersamaan.
Pakar persenjataan N.R. Jenzen-Jones menjelaskan kepada CNN bahwa pola kerusakan di lokasi menunjukkan karakteristik serangan presisi dari udara.
“Pola kerusakan menunjukkan serangan yang ditargetkan oleh amunisi presisi yang dijatuhkan dari udara,” kata Jenzen-Jones.
Ia menilai insiden tersebut kemungkinan merupakan kesalahan penargetan. Menurutnya, militer AS mungkin gagal mengenali bahwa sekolah tersebut telah dipisahkan dari kompleks militer oleh tembok sejak tahun 2016. (ted)






