Malang (beritajatim.com) – Kursi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini memiliki nakhoda baru. Dia adalah Prof. Ahmad Erani Yustika, seorang figur yang rekam jejaknya membentang dari menara gading akademis hingga lingkaran inti kekuasaan.
Penunjukannya oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan, bukan hanya karena posisi strategis yang diembannya, tetapi karena ia adalah seorang intelektual lintas zaman.
Alumni kebanggaan Universitas Brawijaya (UB) ini dikenal luas sebagai salah satu pemikir ekonomi di era Presiden Joko Widodo.
Kini, Prof Erani dipercaya melanjutkan pengabdiannya di bawah pemerintahan baru. Lahir di Ponorogo pada 1973, perjalanan intelektual Erani Yustika dimulai di almamaternya, Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, tempat ia lulus pada 1996.
Sejak awal, ia menunjukkan gairah luar biasa pada dunia gagasan, yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Hingga kini, lebih dari 750 artikel dan 30 buku telah lahir dari pemikirannya.
Kecemerlangan akademisnya membawanya terbang ke Jerman, ia menuntaskan studi Magister (MSc) dan Doktoral (Ph.D) di University of Göttingen dengan spesialisasi Ekonomi Kelembagaan. Berbekal ilmu tersebut, ia kembali mengabdi di kampusnya.
Prestasinya tak main-main, mulai dari Dosen Berprestasi di Universitas Brawijaya dan tingkat nasional pada 2006 dan 2009. Kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan pada usia yang relatif muda, yakni 37 tahun, pada 2010. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) periode 2019–2023, menunjukkan pengaruhnya yang kuat di kalangan alumni.
Prof. Erani adalah potret akademisi yang tidak betah hanya berteori. Ia memilih terjun langsung ke dalam sistem untuk mengaplikasikan gagasannya. Jembatan pertamanya adalah saat ia menjabat Direktur Eksekutif INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) dari 2008 hingga 2015, sebuah lembaga think-tank ekonomi yang berpengaruh.
Saat pemerintahan Presiden Joko Widodo berjalan, namanya ditarik ke dalam birokrasi dan langsung memegang peran krusial. Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (2015–2017) di Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi.
Prof Erani tercatat pernah menjabat sebagai Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan (2017–2018) di kementerian yang sama. Puncak kedekatannya dengan kekuasaan adalah saat menjadi Staf Khusus Presiden Joko Widodo di Bidang Ekonomi (2018–2019), ia ikut merumuskan kebijakan strategis nasional.
Setelahnya, ia terus mengabdi sebagai Kepala Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI. Seluruh jejak ini mengukuhkannya sebagai salah satu birokrat-intelektual kunci di era Jokowi.
Meski identik dengan pemerintahan sebelumnya, keahlian Erani Yustika terbukti melampaui sekat politik. Presiden Prabowo Subianto melihat kapasitasnya sebagai aset berharga bagi bangsa. Sebelum penunjukan resminya sebagai Sekjen ESDM, Prabowo telah memberinya tugas sebagai Sekretaris Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional.
Mandat tersebut menjadi sinyal awal dan jembatan transisi yang mulus. Kini, sebagai Sekjen ESDM, Erani Yustika mendobrak tradisi lama yang biasanya diisi pejabat karier internal.
Perjalanan Prof. Erani Yustika adalah bukti bahwa seorang intelektual dengan rekam jejak yang solid mampu mengabdi melintasi zaman, menjawab panggilan tugas dari siapa pun pemimpin negaranya.
Ia diharapkan mampu membawa perspektif ekonomi kelembagaan yang segar untuk menavigasi tantangan kompleks di sektor energi, mulai dari transisi energi hingga hilirisasi sumber daya mineral. [dan/aje]






