Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah mulai melakukan langkah agresif untuk memutar balik arus uang jemaah haji yang mencapai lebih dari Rp18 triliun agar kembali ke Tanah Air. Upaya ini dilakukan dengan menggenjot ekspor komoditas lokal seperti 22 jenis bumbu nusantara, jutaan paket makanan siap saji (ready to eat/RTE), hingga mencetak sejarah baru melalui ekspor beras surplus nasional ke Arab Saudi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah RI, Prof. Dr. Jaenal Effendi, menegaskan bahwa selama ini potensi ekonomi raksasa dari penyelenggaraan haji justru lebih banyak dinikmati oleh negara lain. Melalui kebijakan baru ini, pemerintah ingin memastikan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok konsumsi jemaah.
“Harapannya ini tidak sekadar masuk ke Saudi saja, tapi juga nanti ini bisa dirasakan. Bahkan selama ini dirasakan oleh Thailand, Filipina, Australia, bahkan Malaysia. Harapannya ke depan ini bisa mengucur sebagian ke masyarakat Indonesia melalui UMKM yang ada, yang kita kasih kesempatan untuk bisa melakukan ekspor ke Saudi,” ujar Jaenal Effendi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Tahun ini, pemerintah menargetkan pengiriman lebih dari 400 ton bumbu otentik Indonesia dan 3,9 juta paket makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan jemaah, terutama saat fase puncak haji di Armuzna. Sebanyak 10 perusahaan bumbu dan 10 produsen makanan siap saji telah mengantongi izin dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA) guna menjamin kualitas dan cita rasa nusantara di Tanah Suci.
Selain bumbu dan makanan, terobosan paling signifikan pada musim haji 2026 adalah rencana ekspor beras untuk kebutuhan jemaah. Memanfaatkan momentum surplus panen raya nasional sebesar 2 juta ton, pemerintah sedang melakukan finalisasi agar beras pulen asal Indonesia bisa bersaing dengan produk dari Thailand dan Vietnam yang selama ini mendominasi pasar Arab Saudi.
“Sudah saatnya Indonesia melakukan ekspor beras. Dan sudah saatnya kita melakukan ekspor ini untuk bisa ‘pecah telur’ di Arab Saudi nanti, terutama di keperluan ibadah haji. Syukur-syukur nanti bisa berkelanjutan untuk umrah. Harapannya nanti kita membuat senang para jemaah kita untuk bisa merasakan beras dari Indonesia yang pulen, yang enak,” ungkap Jaenal.
Tidak hanya soal konsumsi, pemerintah juga tengah memetakan potensi produk oleh-oleh haji buatan lokal. Produk unggulan seperti kurma dari Pasuruan dan Lombok Utara, tasbih dari Jepara, hingga cokelat asal Garut akan diintegrasikan ke dalam sebuah platform digital. Inovasi ini memungkinkan jemaah membeli oleh-oleh khas haji produksi UMKM Indonesia yang akan langsung dikirim ke alamat rumah masing-masing.
“Kami sedang mengembangkan platform oleh-oleh haji. Jemaah belum sampai ke rumah, barang-barang ini sudah sampai lebih dulu. Artinya, kita punya produk-produk yang bagus. Ini beberapa potensi yang bisa kita kembangkan dan menjadi tugas Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji,” pungkasnya. [ian/kun]






