Ponorogo (beritajatim.com) – Di sudut gang sempit Jalan Jaksa Agung Gang 1, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo Kota, berdiri sebuah rumah sederhana. Tak banyak yang menyangka, di dalam rumah itu berjejer ratusan piala. Ratusan piala itu, merupakan saksi bisu perjalanan pendidikan dari Avan Ferdiansyah Hilmi.
Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Avan menorehkan prestasi membanggakan, yakni diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Bagi sebagian orang, mungkin ini sekadar kabar penerimaan kampus. Namun bagi orangtua Avan, yakni Eko Yudianto (54) dan Ummi Latifah (50), ini adalah perjuangan panjang yang ditapaki dalam keterbatasan ekonomi.
Sejak duduk di bangku kelas 2 SD di SDN 1 Mangkujayan, Avan telah rajin membawa pulang piala dari berbagai ajang lomba sains dan matematika. Prestasinya tak pernah padam, bahkan hingga duduk di bangku SMA.
“Anaknya seperti anak-anak lain, suka main game juga, tapi alhamdulillah sejak kecil selalu semangat ikut lomba. Piala itu datang satu per satu, dari SD sampai SMA,” ungkap sang ibu, Ummi Latifah, yang sehari-hari berdagang minuman di depan sekolah anaknya dulu, Selasa (8/7/2025).
Tak ada les privat, tak ada bimbel mahal. Semua dicapai Avan hanya bermodal semangat dan dukungan penuh dari orang tuanya. Ummi mengakui, kondisi ekonomi keluarganya memang pas-pasan. Suaminya hanya pedagang makanan keliling. Namun, semangat mereka untuk terus mendukung pendidikan Avan tak pernah surut.
“Kalau dibilang senang, ya pasti senang anak saya bisa kuliah di ITB. Tapi terus terang berat juga mikir biayanya. KIP-Kuliah yang kami ajukan belum juga turun. Untuk semester awal ini, alhamdulillah ada bantuan dari Paragon Corp,” kata Ummi.
Avan sendiri tak pernah merasa kekurangannya menjadi penghalang. Dia justru menjadikannya motivasinya untuk terus maju. Cita-cita masuk ITB telah Dia sematkan sejak duduk di bangku SMA. Dengan cermat, buyung pertama dari 2 saudara itu, mengatur strategi masuk lewat jalur prestasi. Dia menjaga nilai akademiknya sejak kelas 10 dan aktif mengikuti kompetisi, termasuk Olimpiade Sains Nasional yang digelar di kampus ITB sendiri.
“Sejak kelas 10, saya sudah berkeinginan untuk kuliah di ITB. Jadi saya fokus di jalur SNBP. Jadi sejak awal SMA sudah niat jaga nilai dan ikut lomba sains,” kata Avan saat ditemui di rumahnya.
Kini, Avan resmi diterima di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, jurusan yang sesuai impiannya sejak SMA. Avan berharap, perjuangannya tak berhenti di sini. Beasiswa penuh, termasuk KIP-Kuliah, masih Dia nantikan agar bisa lebih fokus dalam menempuh perkuliahan tanpa membebani orang tuanya.
“Sebelum daftar ke ITB ini, saya sudah berulang kali konsultasi ke Guru BK. Ya, yang penting daftar dulu, untuk masalah biaya pasti nanti ada jalan solusinya,” pungkasnya. (end/kun)






