Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) XIII pada 11-12 September 2025. Mengusung tema “Pemartabatan Bahasa Indonesia Melalui Penguatan Pengajaran BIPA pada Era Digital”, acara ini mempertemukan ratusan akademisi, praktisi, dan diplomat bahasa dari berbagai negara untuk merumuskan masa depan bahasa Indonesia di panggung global.
Konferensi yang digelar secara hibrid ini dihadiri oleh total 344 peserta, dengan 229 orang hadir secara luring di Aula Gedung A20 UM dan 113 lainnya bergabung secara daring. Momentum ini menjadi semakin krusial pasca ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi pada Konferensi Umum UNESCO.
“Puji syukur kegiatan ini dapat terlaksana setelah diinisiasi setahun lalu dan dipersiapkan secara teknis selama tiga bulan terakhir,” ujar Direktur Pascasarjana UM, Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., M.Pd., dalam sambutannya, Kamis (11/9/2025).
“Peserta datang dari berbagai latar belakang dan negara, termasuk Jepang, Thailand, Persia, Australia, Korea, dan Azerbaijan. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita bersama untuk memartabatkan bahasa Indonesia.”
Pembukaan konferensi ditandai dengan pemukulan gong dan pidato kunci dari Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. Beliau memberikan perspektif historis dan filosofis yang mendalam mengenai kekuatan sejati bahasa Indonesia.
Menurutnya, martabat bahasa Indonesia tidak lahir dari ruang elite, melainkan dari pergulatan rakyat biasa. Bahasa Indonesia semula adalah bahasa vernakular, bahasa pasar kaum subaltern (termarginalkan) di era kolonial dan feodal.
“Justru karena berasal dari rakyat, ia memiliki DNA egaliter, inklusif, dan emansipatoris. Tidak ada superioritas etnis di dalamnya. Orang Jawa tidak merasa lebih tinggi dari orang Sunda, atau saudara kita di Riau tidak merasa lebih Melayu dari saudara kita di Papua,” ungkap Prof. Hariyono.
Dia membandingkan kebijakan ini dengan Belanda di Afrika Selatan yang mengizinkan bahasa Belanda digunakan pribumi, sementara di Indonesia, Belanda justru melakukan segregasi bahasa. Sejarah mencatat, bahkan seorang Muhammad Yamin pada Kongres Pemuda I belum siap menerima istilah bahasa Indonesia, sebelum akhirnya menjadi pelopor pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
“Fenomena ini menunjukkan bahasa Indonesia tidak lahir dari laboratorium yang sepi, tapi dari pergulatan. Inklusivitasnya memungkinkan perjumpaan, bahkan saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa tidak hanya berdagang, tapi juga menjadi wartawan dan pemilik media berbahasa Melayu,” tegasnya.
KIPBIPA XIII bukan sekadar ajang diskusi, melainkan sebuah forum untuk menghasilkan luaran konkret. Ketua Umum Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) Pusat, Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., menjelaskan bahwa konferensi ini bertujuan merumuskan rekomendasi kebijakan.
“Luaran dari konferensi ini akan kami rumuskan menjadi rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan. Ini adalah panduan tentang bagaimana arah pengembangan BIPA seharusnya melangkah, yang dirumuskan melalui forum akademik,” jelas Prof. Gatut.
Forum ini menghadirkan 12 pembicara utama, terdiri dari 4 pakar internasional dan 8 pakar dalam negeri. Jajaran pembicara internasional meliputi: Prof. Koh Young Hun (Korea Selatan) dengan topik Internasionalisasi Bahasa Indonesia dan Smart Learning.

Prof. Habib Zarbaliyev (Azerbaijan) dengan topik Imbuhan Infleksional Kumulatif dan Separatif dalam Konteks BIPA. Prof. Ellen Raferty (Amerika Serikat) dengan topik Pengajaran Bahasa Indonesia di AS: Sejarah, Metodologi, dan Tantangan. Prof. George Quinn (Australia) dengan topik BIPA di Australia: Buyarnya Sebuah Impian?
Selain itu, terdapat 57 pemakalah yang hadir luring dan sekitar 30 pemakalah daring yang berbagi hasil riset dan praktik terbaik dari seluruh dunia.
Acara terselenggara berkat kolaborasi antara APPBIPA, Universitas Negeri Malang, dan dukungan penuh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. KIPBIPA XIII diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya kolektif mengangkat martabat bahasa Indonesia di panggung dunia.
“Harapan kami, terjadi pertukaran pikiran dan pengalaman yang saling menguatkan. Yang sudah besar bisa memberi inspirasi, dan yang baru memulai BIPA bisa menemukan banyak role model. Tentu saja, yang terpenting adalah lahirnya kolaborasi antar institusi,” tambah Prof. Gatut.
Fokus utama konferensi adalah merespons tantangan zaman. Berbagai subtema dibahas secara mendalam, mulai dari pengembangan profesi pengajar BIPA, peran teknologi dan kecerdasan buatan (AI), hingga sinergi program BIPA dengan sektor pariwisata dan diplomasi. (dan/but)






