Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto tengah menjadi jujukan para netizen yang berburu spot foto. Ini setelah sebuah video berdurasi 24 detik viral di media sosial (medsos). Video itu memperlihatkan indahnya pemandangan hijau berlatar Gunung Pawitra atau Penanggungan. Ibarat surga yang jatuh di Mojokerto.
Padang savana tersebut diberi nama “Ranu Manduro”. Lokasinya berada di kaki Gunung Penanggungan tepatnya di Desa Manduro Mangun Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Lokasi bekas galian C tersebut saat ini menjadi tujuan wisata baru, utamanya bagi para netizen yang ingin berburu spot foto.
Untuk menuju ke lokasi, masyarakat tidak perlu bingung karena sudah muncul di google map. Dari arah Mojokerto cukup mencari arah ke Pasuruan. Nah, sebelum masuk Kabupaten Pasuruan, belok arah kanan. Cari papan nama bertuliskan Desa Manduro MG Jalan Seloruci RT 13/03.
https://www.facebook.com/beritajatimnews/videos/893021697818626/
Jalan masuk berupa paving dan cukup mengikuti jalan tersebut. Namun denikian, mendekati lokasi, kita akan disambut jalan becek ketika musim hujan seperti saat ini. Tak butuh waktu lama, pengunjung akan melihat pintu masuk menuju Ranu Manduro. Di lokasi tersebut, beberapa pemuda desa setempat berjaga untuk meminta tiket masuk.
[berita-terkait number=”5″ tag=”wisata”]
Pengunjung cukup membayar Rp5 ribu untuk kendaraan roda dua. Disarankan untuk membawa kendaraan roda dua saat musim hujan seperti ini. Setelah melewati pintu masuk, hampuran rumput hijau dengan bebatuan besar pun menyambut. Para pengunjung dimanjakan indahnya lukisan alam.
Masyarakat yang datang tidak hanya dari Mojokerto, namun juga dari luar kota. Ini terlihat dari nopol kendaraan yang mereka bawa. Disarankan saat datang ke lokasi, pagi atau sore, karena pada siang hari lokasi panas. Meski sudah banyak masyarakat yang datang, tak perlu takut tidak kebagian slot foto karena lokasinya juga luas.
Sehingga pengunjung bisa memilih lokasi untuk dijadikan spot foto dengan penampakan Gunung Pawitra di sisi selatan. Salah satu pengunjung, Izzatul (26) mengaku sengaja membawa anaknya yang belum genap berusia satu tahun ke lokasi karena ingin menikmati suasana sejuk. “Kalau pagi udaranya sejuk. Jadi memang sengaja bawa anak kesini. Sudah beberapa kali kesini, karena rumah dekat. Bagus pemandangannya,” ungkap Izzatul, Kamis (27/2/2020).
Masih kata warga Ngoro ini, lokasi tersebut dulunya merupakan penambangan galian C. Namun saat ini, sudah tidak ada aktivitas lagi. Oleh sebab itu, saat musim hujan seperti ini, lokasi tersebut terlihat hijau. Rerumputan dan tanaman perdu tumbuh subur. Pemandangan itu semakin serasi dengan adanya batu besar di antara hamparan padang rumput.
Petugas tiket masuk, Heri Purnomo mengatakan, sejak seminggu lalu lokasi tersebut ramai dikunjungi masyarakat yang penasaran. “Minggu kemarin mulai banyak yang datang, tapi tidak bisa dipastikan setiap harinya. Tiket Rp5 ribu ini untuk perbaikan jalan, karena jalan masuk sini rusak,” jelasnya. [tin/suf]







