Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, angkat bicara soal maraknya pengibaran bendera bertema bajak laut dari serial One Piece yang kerap terlihat berdampingan, bahkan menggantikan bendera Merah Putih di sejumlah lokasi. Ia meminta publik untuk tidak terburu-buru menghakimi fenomena tersebut.
“Sebetulnya sebelumnya kita harus menelaah dulu dan mencermati apa sih tujuan utama dari pemasangan bendera One Piece ini dulu. Ya kan?” ujar Cahyo saat dihubungi, Senin (4/8/2025).
Menurut Cahyo, penting untuk memahami siapa inisiator dan apa makna simbolik dari pengibaran bendera tersebut sebelum memberikan penilaian. Ia menekankan bahwa simbol bajak laut dalam anime populer Jepang itu bisa ditafsirkan dengan berbagai makna tergantung niat penggunanya.
“Jadi siapa inisiatornya, apa tujuannya, dan sebenarnya simbol apa dari bendera One Piece ini kan perlu kita cermati bersama,” katanya.
Cahyo secara pribadi mengaku sebagai penggemar One Piece. Ia menyebut tokoh utama serial itu, Luffy, memiliki nilai-nilai perjuangan, keteguhan hati, dan cita-cita tinggi yang bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda.
“Kalau saya pribadi mengikuti One Piece. Dan alur cerita dari One Piece ini adalah bagaimana Luffy ini bisa menjadi seorang bajak laut yang kuat, menjadi bajak laut yang mampu menjadi raja bajak laut dan menguasai semua potensi kejayaan di kalangan bajak laut,” jelasnya.
Cahyo memaknai bahwa sebagian anak muda yang mengibarkan bendera tersebut mungkin tengah menyampaikan harapan akan masa depan Indonesia. Mereka ingin menunjukkan semangat untuk menjadikan bangsa ini mandiri dan kuat di tengah tantangan global.
“Nah, mungkin saja masyarakat yang memasang bendera One Piece ini tujuan utamanya justru sebenarnya ingin memberikan gambaran bahwa Indonesia mampu menjadi bangsa yang kuat, menjadi bangsa yang berdikari, berdiri di atas kaki sendiri dan mampu menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia, mungkin saja,” ujarnya.
Namun, ia tetap mengingatkan bahwa bentuk ekspresi tersebut harus disertai dengan kesadaran nasional. Kreativitas, menurut Cahyo, tak boleh sampai menyingkirkan penghormatan terhadap simbol negara, terutama di momen menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI.
“Tetapi kita juga harus kembali lagi, pemasangan bendera ini, bentuk kreativitas ini, bentuk ekspresi dari masyarakat ini juga harus memperhatikan nilai-nilai persatuan kesatuan, nilai-nilai toleransi dan juga nilai nasionalisme karena saat ini kita sedang masa yang mendekati hari kemerdekaan kita,” tegasnya.
Cahyo mengakui bahwa ada informasi yang menyebut pengibaran bendera ini sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Namun ia menilai gerakan seperti itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil kelompok, dan tidak mewakili semangat mayoritas generasi muda.
“Tapi saya meyakini ini hanya kelompok kecil masyarakat, karena saya percaya semangat generasi muda kita hari ini adalah semangat untuk menjaga keutuhan bangsa, semangat untuk membangun Indonesia yang lebih baik, bukan untuk merusaknya,” katanya.
Menurut Cahyo, generasi muda saat ini bersifat kritis, aktif, dan terbuka. Maka tak heran bila ekspresi mereka melibatkan karakter fiksi atau budaya pop. Justru semangat di balik ekspresi itu bisa menjadi penguat nasionalisme.
“Maka itu juga menunjukkan nilai-nilai nasionalisme di masyarakat kita khususnya generasi muda ini tetap eksis dan juga terus menjadi pengingat bagi kita semuanya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa fenomena pengibaran bendera One Piece ini tidak bisa langsung dimaknai secara negatif. Namun perlu ada kewaspadaan agar simbol budaya asing tidak menggantikan kebanggaan terhadap simbol negara.
“Saya juga pesan jangan sampai pengibaran bendera One Piece ini mendiskreditkan sang saka Merah Putih dan mengganggu suasana persatuan dan nasionalisme masyarakat kita,” pungkasnya. [asg/beq]






