Surabaya (beritajatim.com) – Penulisan yang benar antara “Ramadhan” atau “Ramadan” sering menjadi perdebatan, terutama di Indonesia.
Sebagian orang menggunakan “Ramadhan” dengan huruf “h”, sementara yang lain menulisnya sebagai “Ramadan” tanpa “h”. Lantas, mana yang paling sesuai secara ejaan dan kebahasaan?
Secara bahasa, kata رمضان dalam bahasa Arab diucapkan sebagai “Ramadān” dengan fonem panjang pada huruf “a”. Dalam transliterasi resmi yang diatur oleh Pedoman Transliterasi Arab-Latin Kementerian Agama RI, kata رمضان ditransliterasikan menjadi “Ramadan”, tanpa huruf “h”.
Banyak masyarakat di Indonesia dan Malaysia yang terbiasa menulis “Ramadhan” karena mengikuti cara baca yang lebih familier.
Namun, mayoritas masyarakat internasional menggunakan “Ramadan” karena lebih sesuai dengan ejaan Latin yang umum dipakai dalam bahasa Inggris dan standar akademik.
Dalam Kamus dan Lembaga Resmi
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sama-sama mencantumkan “Ramadan” sebagai bentuk yang benar.
Oxford dan Merriam-Webster Dictionary pun juga menggunakan “Ramadan” dalam bahasa Inggris.
Berdasarkan aturan baku, penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia adalah “Ramadan”, sesuai dengan KBBI dan pedoman transliterasi. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, “Ramadhan” tetap sering dipakai karena sudah melekat dalam kebiasaan masyarakat.
Jadi, jika ingin mengikuti ejaan resmi dan akademik, gunakan “Ramadan”. Namun, dalam konteks informal atau keagamaan, “Ramadhan” tetap bisa diterima. (fyi/ian)






