Surabaya (beritajatim.com) – Ramadhan 2023 membuat Marthy Meliana ketiban cuan. Pemilik brand minuman Ratjikan Jeng Ayu itu ramai pesanan paket hampers hingga meraup cuan jutaan rupiah.
Pada Ramadhan ini pesanan meningkat. Marthy menerima pesanan paket hampers berisi jamu dengan tiga varian yakni sinom, beras kencur, dan kunyit asem.
Tiap paket berisi 20 botol. Dalam satu hari, dia bisa menjual hingga belasan paket.
Bukan anak baru, ternyata Marthy sudah sukses mengembangkan minuman jamu kemasan itu sejak tiga tahun terakhir. Alumnus Magister Farmasi Industri salah satu universitas kondang di Surabaya itu memproduksi ratusan botol minuman sinom per hari.
Wanita yang tinggal di Kawasan Pecindilan Kapasari, Genteng, Surabaya itu bercerita, seleksi bahan, pembersihan, perendaman, perebusan hingga pengemasan dilakukan di rumahnya. Tidak sendiri, dia dibantu dua orang karyawan.
Baca Juga:
Penjual Jamu dan Es Cao ini Dapat Bantuan Modal dari LMI
Minuman sinom dipilihnya karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Resepnya merupakan turun temurun dari keluarga.
“Sejak kecil, saat saya (sakit) panas seringkali dibuatkan minuman sinom oleh nenek. Memang, panasnya langsung turun. Selain itu, rasa sinom buatan nenek juga beda dengan yang ada di pasaran,” kata wanita yang hendak menempuh doktoral Ilmu Farmasi itu.
Minuman sinom racikan neneknya itu tidak pahit seperti jamu pada umumnya. Justru, sinom yang dikembangkan kali ini ramah di lidah. Rahasianya, ada pada bahan baku. Resep ini memadukan bahan pokok seperti kunyit, asam jawa, dan gula batu dengan bahan tambahan seperti alang-alang dan madu.
“Tidak pakai pemanis buatan maupun bahan pengawet. Batang alang-alang ikut dalam kemasan yang membuat rasa semakin kuat. Karena menggunakan pemanis alami dan takaran bahan yang pas, sinom yang dihasilkan pun nyaman ketika masuk tenggorokan. Kalau testimoni pembeli, sinom saya ini tak serik,” katanya.
Dari situ, usahanya mulai berkembang. Dari pembeli yang merupakan tetangga, kini sudah merambah Surabaya Raya.
Sinom buatannya juga banyak diburu untuk booster penguat daya tahan tumbuh. Pada masa pandemi lalu, pesanan sudah tak terhitung.
Satu botol dipatok harga mulai harga Rp7.000 untuk untuk ukuran 250 ml, dia bisa memproduksi 1.300 botol tiap hari. Sebanyak 300 botol di antaranya diproduksi di Surabaya, sedangkan 1.000 lainnya di Sidoarjo. Omzetnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Baca Juga:
Badan POM RI : Jamu Tradisional Tawon Klanceng Banyuwangi Ilegal
“Pada saat Covid-19 lalu, misalnya, pemesanan juga cukup besar,” kata perempuan yang juga dosen di Universitas Anwar Medika itu.
Saat ini, sebagian besar pesanan menggunakan sistem pre-order, kawasan pemasarannya mencakup Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik). “Selain dengan PO, saya juga punya dua toko dan menyuplai beberapa toko,” katanya.
Pesanan sebenarnya juga datang dari luar kota bahkan luar provinsi. Namun, karena ini tanpa pengawet, minuman ini hanya bisa bertahan lama jika berada dalam suhu rendah.Sehingga, dia belum bisa menerima pesanan dari jauh.
“Sebenarnya, kalau disimpan di lemari es bisa sampai 7 hari. Kalau disimpan di freezer, bahkan bisa sampai satu bulan,” katanya.
Meski begitu, pihaknya menargetkan dapat memperluas pasar dengan masuk di sektor supermarket di Surabaya. Saat ini, pihaknya tengah proses melengkapi administrasi. Serta, dia mengembangkan kafe jamu di Surabaya.
“Impian saya, saya ingin membuat cafe jamu yang bisa jadi jujugan anak-anak muda. Namun karena kafe ini menjual jamu, tentu minuman yang disajikan jauh lebih berkhasiat dibandingkan kafe yang sudah ada ya,” pungkasnya. [asg/beq]






