Surabaya (beritajatim.com) – Mie nyemek menjadi salah satu menu kuliner yang tengah digemari banyak orang. Hidangan yang satu ini dikenal karena cita rasanya yang gurih dan teksturnya yang berada di antara mie goreng dan mie kuah.
Junior Sous Chef Hotel Santika Premier Gubeng, Djoko Susilo, mengungkapkan bahwa istilah “nyemek” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti tidak basah dan tidak kering.
“Ini ada di tengah-tengahnya, paduan antara bakmi kuah dan bakmi goreng,” jelasnya.
Sajian mie nyemek ini menjadi signature dish Hotel Santika Premier Gubeng karena sangat disukai para tamu. Kelezatan kuah kental dan gurihnya menjadi salah satu menu yang paling dicari, terutama saat sarapan pagi.
“Sebenarnya kami juga menyediakan aneka olahan mie. Ada mie goreng sampai I fu mie, tapi yang paling dicari adalah mie nyemek,” ungkapnya, Rabu (8/10/2025).
Tak hanya tamu lokal, pengunjung dari luar negeri pun turut menggemari menu satu ini. “Rasanya yang kaya rempah khas Indonesia yang bikin mereka ketagihan,” lanjut Chef Djoko.
Soal proses pembuatan, Chef Djoko menjelaskan, mie nyemek dibuat dengan cara menumis bawang merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan hingga harum. Setelah itu, masukkan telur dan orak-arik hingga matang, lalu tambahkan kecap, saus sambal, lada, dan garam. Setelah semua bumbu meresap, baru masukkan kol, sawi, dan daun bawang, kemudian tumis hingga layu.
Menurut Chef Djoko, ada satu bahan rahasia yang membuat mie nyemek terasa lebih gurih dan berbeda dari olahan mie lainnya, yakni ebi.
“Jadi ebi dihaluskan bersamaan dengan bumbu yang lain lalu ditumis,” ungkapnya.
Dengan resep dasar yang sama, Chef Djoko juga menghadirkan berbagai kreasi mie nyemek dengan aneka topping, seperti mie nyemek ayam jamur, mie nyemek seafood, hingga mie nyemek jamur pedas.
“Mie nyemek ini bisa dikreasikan dengan berbagai topping variatif dan rasanya dijamin bikin nagih,” pungkasnya. [way/ian]






