Lamongan (beritajatim.com) – Kompetisi musim ini menghadirkan pengalaman baru bagi bek kanan Persela Lamongan, Rafiud Drajat. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari Laskar Joko Tingkir, ia harus menjalani kompetisi sepak bola bersamaan dengan ibadah puasa Ramadan.
Meski telah tiga musim memperkuat Persela, pemain berusia 26 tahun itu mengaku baru kali ini merasakan atmosfer kompetisi yang berlangsung di tengah bulan suci. Menurutnya, menjalani latihan dan pertandingan sambil menahan lapar serta dahaga menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau latihan di bulan puasa, ya tentunya untuk menahan lapar itu berat. Tapi sekarang sudah puasa di 10 hari terakhir, alhamdulillah sudah terbiasa,” kata Rafiud, Senin (16/3/2026).
Rafiud menjelaskan, pada musim-musim sebelumnya kompetisi biasanya sudah berakhir sebelum Ramadan dimulai. Hal itu membuatnya tidak pernah merasakan jadwal pertandingan yang beririsan dengan bulan puasa.
“Kalau sebelumnya paling lambat kompetisi selesai bulan Februari. Jadi baru kali ini kompetisi berjalan di bulan puasa,” kata pemain yang beroperasi di sisi kanan pertahanan tersebut.
Agar kondisi tubuh tetap prima selama Ramadan, Rafiud memiliki cara sederhana untuk menjaga stamina. Ia menekankan pentingnya pola makan yang tepat saat sahur serta disiplin mengatur waktu istirahat.
“Kalau menjaga kondisi ya dari sahurnya. Pilih makanan yang proteinnya banyak supaya tenaga tetap ada sampai sore. Habis tarawih biasanya sudah istirahat, tidak terlalu larut malam, lalu bangun lagi sekitar jam 3 untuk sahur,” jelasnya.
Selain aktivitas sepak bola, Ramadan tahun ini juga terasa berbeda karena ia harus menjalani puasa jauh dari keluarga di kampung halamannya di Pinrang, Sulawesi Selatan.
“Perbedaannya mungkin karena tidak bareng keluarga saja. Kalau puasa di kampung dan di sini sebenarnya sama saja, cuma sekarang jauh dari keluarga,” tuturnya.
Hal yang paling ia rindukan dari Ramadan di kampung halaman adalah kebersamaan dengan teman-teman lama. Biasanya, bulan puasa menjadi momen berkumpul bagi para perantau yang pulang kampung.
“Biasanya di sana main bola sama teman-teman. Waktu Ramadan kan banyak yang pulang kampung, jadi bisa kumpul semua,” katanya sambil tersenyum.
Meski demikian, Lamongan tetap memberi kenyamanan tersendiri bagi Rafiud. Ia menilai lingkungan di Kota Soto cukup mendukung aktivitasnya sebagai pesepakbola profesional sekaligus sebagai muslim yang menjalani ibadah puasa.
“Di Lamongan menurut saya enak. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Buat cari makanan ada, dan yang penting mess dekat masjid, jadi ibadah juga lancar,” ucapnya.
Bagi Rafiud, menjalani Ramadan sebagai pesepakbola profesional berarti menjaga keseimbangan antara disiplin latihan, merawat kondisi fisik, serta tetap khusyuk menjalankan ibadah di tengah padatnya agenda kompetisi yang terus berjalan. [fak/beq]






