Sumenep (beritajatim.com) – Ratusan warga yang mengatasnamakan Masyarakat Peduli Demokrasi (MPD), berunjuk rasa ke kantor Panwascam Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Minggu (18/02/2024). Mereka menduga telah terjadi kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu 2024 di Kecamatan Sapeken, khususmya di Pulau Pagerungan Kecil.
Korlap Aksi, Denny Sabibi mengungkapkan, pihaknya menemukan dugaan kecurangan berupa satu pemilih mencoblos beberapa kali. Diduga ada puluhan surat suara yang dicoblos bukan oleh pemilik hak pilih.
“Kami menduga satu orang mencoblos beberapa kali. Karena pemilik hak suara itu sedang tidak ada di Pagerungan Kecil, Sapeken. Sedang merantau. Bagaimana bisa surat suaranya tercoblos? Tidak mungkin orang yang merantau ini mencoblos disini. Karena memang dia tidak ada di Sapeken. Ini berarti kan ada yang mencobloskan?” ujarnya.
Ia menuding ada persekongkolan antara penyelenggara pemilu di tingkat TPS dan desa dengan salah satu caleg DPRD Kabupaten agar mencobloskan surat suara milik orang yang merantau, agar memilih caleg tersebut.
“Kalau tidak ada persekongkolan, mana mungkin 1 orang bisa mencoblos beberapa kali? Tidak mungkin orang yang tidak ada di Sapeken ini tiba-tiba surat suaranya tercoblos. Ini pasti ada permainan,” tandasnya.
Ia juga menyesalkan mengapa tidak ada tindakan dari pengawas, baik pengawas TPS maupun pengawas di tingkat desa. Ia mencurigai semua itu adalah pesanan orang tertentu, sebagai upaya memenangkan salah satu caleg di Dapil VIII yang meliputi Sapeken, Arjasa, dan Kangayan.
“Kami meminta Panwascam memanggil pengawas desa dan caleg DPRD nya. Pelanggaran ini sudah bisa disebut terstruktur sistematis dan masif,” tandasnya.
Sementara Ketua Panwascam Sapeken, Maksum Fahrudi saat menemui pengunjuk rasa tidak berkomentar banyak. Ia hanya menyatakan akan menindaklanjuti temuan dugaan kecurangan tersebut.
“Kami siap untuk menindaklanjuti temuan itu. Saat ini kami masih menggelar rapat,” ucapnya singkat.
Mendengar penjelasan itu, massa aksi berangsur bubar. Namun mereka mengancam akan datang lagi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan mereka diabaikan.
“Kami akan gelar aksi berikutnya apabila temuan dugaan kecurangan ini tidak ditindaklanjuti. Kami juga akan menyampaikan laporan dugaan kecurangan ini secara tertulis, kalau perlu ke Bawaslu Provinsi,” ujar Denny. [tem/aje]






