Surabaya (beritajatim.com) – Puluhan massa aksi yang menamakan dirinya sebagai Gerakan rakyat Surabaya dukung keadilan (Geruduk), Melakukan aksi di depan DPC kantor PDI P yang berada di jalan Setail No 8 Kota Surabaya.
Dalam aksi yang mereka lakukan ini sebagai upaya ungkapan aspirasi rakyat Surabaya untuk tidak dilakukan pemilu ulang lagi, Dikarenakan banyaknya petugas TPPS yang meninggal dunia dengan adanya guliran hak angket yang di gaungkan oleh PDI Perjuangan.
Rico, Perwakilan anggota KPPS TPS 4 Tambaksari yang ikut dalam aksi tolak hak angket menyebut jika usul hak angket sama saja tidak menghargai kerja dari KPPS yang sudah bekerja hingga malam bahkan pagi.
“Banyak juga anggota KPPS yang sampai sakit bahkan ada juga yang meninggal dunia karena kerja melebihi jam kerja,” kata Rico, Sabtu (24/2/2024).
Rico juga menyebut jika di Kota Surabaya tidak ada kecurangan, jika ada kecurangan itu merupakan kesalahan sebagian kecil dari kesalahan KPPS.
Namun Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Achmad Hidayat menyatakan kalo aksi yang di gelar ini sah – sah saja namun merupakan salah alamat kalo mereka melakukan aksi disini, kalo menanyakan hak angket bukanlah disini tempatnya.
“Tapi kami selaku anggota yang ada di kantor PDI-P di jalan setail Surabaya mempersilakan aksi tersebut,” katanya.
Kegiatan aksi yang berlangsung di depan kantor PDI Perjuangan yang berada di jalan Setail Surabaya berjalan tertib, terlihat petugas kepolisian juga sudah berada dilokasi untuk mengamankan kegiatan ini, hingga kegiatan selesai berjalan secara kondusif. (ted)







2 Komentar
Maksudnya apa ya, aku kira yg namanya pendukung PDI loyalitasnya para partai sangat baik, yg ini mungkin aku²aja dan gak punya KTA mungkin, bila punya KTA dipecat aja…
Sudah kewajiban mengemban rasa tanggung-jawab, kenapa kalau sudah tau jadi KPPS itu berat.koq diterabas saja.apa sudah ikut tes kesehatannya atau sekedar comotan…..ada hubungannya apa ya…..antara tanggung-jawab selaku anggota KPPS dengan menolak hak angket ya….memang takut kelihatan kesalahannya,