Ngawi (beritajatim.com) – Setelah diguyur hujan deras selama dua hari berturut-turut, puluhan hektar tanaman tembakau milik petani di Desa Jatipuro, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kini terancam gagal panen. Tanaman tembakau yang telah berusia sekitar 2,5 bulan tersebut tampak layu, dengan beberapa di antaranya sudah mati.
Kondisi tanaman yang rusak ini terjadi karena hujan yang turun terus-menerus, menyebabkan akar tembakau membusuk dan daun-daunnya layu. Petani setempat mengaku sangat terpukul karena potensi panen yang seharusnya mendekati waktu panen malah terancam gagal total. Diperkirakan sekitar 50 hektar lahan tembakau di desa ini terdampak hujan.
Menurut salah satu petani, kerugian yang dialami sangat besar. Untuk setiap seperempat hektar lahan, petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 15 juta untuk bibit, pupuk, obat-obatan, dan biaya tenaga kerja. Jika panen dipaksakan, hasilnya diperkirakan hanya mencapai 30% dari kondisi normal, yang biasanya menghasilkan sekitar 2,17 kuintal per seperempat hektar.
“Hujan dua hari terus-menerus membuat tanaman layu dan mati. Lahan saya seluas 25 are sudah tidak bisa diselamatkan, dan ada puluhan hektar lahan lain yang mengalami hal serupa,” kata Yatmun, salah seorang petani tembakau di desa setempat.
Petani lainnya, Nyamin, juga mengungkapkan kekhawatirannya. “Kami berhutang di bank dan berharap pada hasil tembakau. Tapi, dengan kondisi tanaman seperti ini, kami hanya bisa berharap 30 persen dari hasil panen normal,” katanya.
Para petani pun hanya bisa pasrah melihat harga tembakau kering yang saat ini tinggi, yaitu mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Mereka berharap ada bantuan dari pemerintah setempat untuk mengatasi kerugian yang mereka alami. [fiq/ian]






