Gresik (beritajatim.com) – Puluhan desa yang tersebar di Kabupaten Gresik mulai mengalami dampak kekeringan imbas adanya El Nino. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, ada 23 desa di 6 kecamatan yang meminta dropping air bersih akibat bencana kekeringan ini.
Enam kecamatan yang dimaksud diantaranya Duduksampeyan, Driyorejo, Cerme, Bungah, Kedamean, dan Balongpanggang. Semua wilayah tersebut, sudah melaporkan dampak kekeringan ke BPBD Gresik.
Kepala Bidang (Kabid) Logistik dan Kedaruratan BPBD Gresik, FX Driatmicko Herlambang mengatakan, terkait dengan kekeringan yang melanda 19 desa tersebut. Pihaknya sudah melakukan dropping air bersih bekerjasama dengan perusahaan melalui corporate social responbility (CSR).
“Kami sudah memetakan desa yang mengalami dampak kekeringan. Sementara ada 23 desa. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah akibat dampak El Nino,” katanya.
Ia menambahkan, dropping air bersih ini akan terus guna meringankan warga yang membutuhkan persediaan air untuk minum maupun mandi. “Distribusi air bersih ini tidak dipungut biaya alias gratis. Desa yang kebutuhan airnya terbatas atau kosong bisa melaporkan ke BPBD Gresik langsung kita kirim 2 unit mobil dropping air,” imbuhnya.
Sementara itu, Suwarno (56) warga Desa Ganggang, Kecamatan Balongpanggang mengatakan, sejak kekeringan melanda desanya beberapa hari lalu. Dirinya terpaksa mengirit kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari. “Kami biasanya mengandalkan air sumur buat kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang airnya tinggal sedikit dan tidak cukup buat kebutuhan keluarga,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lanjut dia, dirinya bersama keluarganya membeli air gledekan yang berisi 6 jirigen dengan harga Rp 25 ribu. “Biasanya kalau tidak musim kemarau harganya cuma 10 ribu per gledekan. Sekarang naik karena banyak warga yang membutuhkan,” pungkasnya. [dny/kun]
BACA JUGA:






