Surabaya (beritajatim.com) – PT. Yafo Agro Indonesia (YAI), perusahaan yang bergerak di bidang Agribisnis, menegaskan komitmennya dalam mendukung diversifikasi dan ketahanan pangan negara dengan meluncurkan program kemitraan Green Property untuk budidaya Talas Pratama.
Direktur PT YAI, Sujoko, menyatakan bahwa program ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga untuk mewujudkan bisnis yang berkelanjutan dengan basis organik yang lebih ramah lingkungan.
“Dalam konteks ini, kami melihat bahwa beras masih menjadi komoditas utama dalam konsumsi masyarakat Indonesia. Namun, harga beras yang terus meningkat menjadi alarm bagi kita semua. Oleh karena itu, diversifikasi pangan menjadi sangat penting,” ujar Sujoko pada Selasa (20/2/2024).
Menurut data Konsumsi Pangan Kementan tahun 2022, rata-rata setiap orang di Indonesia mengonsumsi 0,222 kg beras dalam sehari. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 278,696 juta jiwa pada pertengahan tahun 2023, permintaan beras semakin meningkat.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, pemerintah telah mengeluarkan Perpres No.66 Tahun 2021 tentang Badan Pangan Nasional yang mendorong diversifikasi pangan. Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi, pemerintah fokus untuk menurunkan konsumsi beras dan meningkatkan konsumsi talas dalam 5 tahun ke depan.
“Sesuai dengan data tersebut, PT. Yafo Agro Indonesia melihat peluang dari bisnis yang berkelanjutan melalui budidaya Talas Pratama. Selain memiliki harga jual yang kompetitif, talas juga merupakan alternatif pangan yang lebih terjangkau daripada beras,” tambah Sujoko.
Program kemitraan Green Property ini menawarkan peluang bisnis menarik bagi para pemodal, pemilik lahan, dan petani. Dengan penerapan Organic Farming Only, PT YAI memastikan bahwa proses budidaya talas hanya menggunakan teknik pertanian organik, termasuk penggunaan pupuk organik teknologi nano.
“Kami memiliki lahan sendiri sebanyak 160 Hektar di Banyuwangi, Jawa Timur, yang kami kelola dengan hati-hati untuk memastikan tidak ada kerusakan lingkungan,” ungkap Sujoko.
Sujoko juga membuka peluang bagi pemilik lahan di Surabaya dan sekitarnya untuk bergabung dalam program ini. “Budidaya Talas Pratama tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga peluang ini terbuka bagi semua pemilik lahan,” tandasnya. [asg/ian]






