Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI).
Memasuki tahun 2026, program prioritas ini menyasar sebanyak 4.400 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di berbagai wilayah.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki, mengatakan sasaran GAYATRI 2026 diarahkan pada keluarga kurang mampu yang dinilai memiliki potensi dan kesiapan untuk mengelola usaha ternak ayam petelur secara berkelanjutan.
“Di tahun 2026, GAYATRI tetap kami lanjutkan dengan target 4.400 KPM. Harapannya, semakin banyak warga yang tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu mandiri secara ekonomi dari hasil beternak,” ujar Fajar, Rabu (21/1/2026).
Program GAYATRI sendiri telah menunjukkan dampak positif sejak digulirkan. Sepanjang tahun 2025, penyaluran paket ayam petelur menjangkau ribuan KPM melalui berbagai skema pendanaan, mulai dari APBD induk, perubahan APBD, hingga dukungan CSR dan APBDes.
Fajar merinci, pada APBD Induk 2025 program GAYATRI menyasar 400 KPM. Jumlah tersebut meningkat signifikan melalui Perubahan APBD 2025 dengan capaian 5.000 KPM. Selain itu, sebanyak 575 KPM menerima manfaat dari pendanaan CSR, sementara data penerima dari APBDes dikelola oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
“Capaian ini menjadi dasar evaluasi sekaligus pijakan untuk memperluas sasaran di tahun 2026,” jelasnya.
Dari sisi produktivitas, ayam petelur yang disalurkan melalui APBD Induk 2025 saat ini telah memasuki fase puncak produksi. Tingkat produksi telur bahkan mencapai sekitar 82 persen. Sementara ayam dari Perubahan APBD masih berada pada fase pertumbuhan dengan capaian produksi yang terus meningkat, berkisar mulai 30 persen.
Disnakkan berharap, pada tahun 2026 nanti para KPM benar-benar memanfaatkan bantuan yang diterima sesuai dengan bimbingan teknis yang telah diberikan, terutama terkait manajemen kandang, kesehatan ternak, dan pengaturan pakan.
“Kunci keberhasilan ada pada kedisiplinan pengelolaan. Jika diterapkan dengan baik, ayam sehat dan produktivitas tetap terjaga, sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung oleh keluarga,” kata Fajar.
Selain itu, KPM juga diimbau menyisihkan sebagian hasil penjualan telur untuk ditabung. Langkah ini penting sebagai modal membeli ayam pullet baru ketika masa produksi ayam sebelumnya berakhir, agar usaha ternak tetap berlanjut.
Dengan sasaran yang semakin terarah di 2026, Program GAYATRI diharapkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi mampu menjadi fondasi penguatan ekonomi keluarga dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial jangka panjang. [lus/ted]






