Malang (beritajatim.com) – Kementerian Pemberdayaan Masyarakat (PM) RI melanjutkan program prioritas Presiden RI, Prabowo Subianto, yang memberikan cek kesehatan gratis untuk masyarakat, kali ini menyasar ratusan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlahiyah, Singosari, Malang, Jumat (8/8/2025). Program ini bertujuan untuk memperluas akses kesehatan bagi generasi muda Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kemenko PM RI, Leontinus Alpha Edison, bersama dengan Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, meninjau langsung pelaksanaan program ini. Leontinus memastikan bahwa perluasan program cek kesehatan gratis ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo.
“Jadi kami juga mencoba menyukseskan di lingkungan pesantren. Ada lebih dari 400 santri, guru, orang tua dan masyarakat sekitar yang mengikuti pemeriksaan kesehatan ini,” ujar Leontinus.
Dalam kegiatan tersebut, santri yang baru selesai belajar dapat langsung memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan dilakukan oleh belasan tenaga kesehatan yang disiapkan untuk memeriksa berbagai kondisi kesehatan, mulai dari cek mata, tensi darah, hidung, telinga, hingga pemeriksaan kesehatan lainnya.
Program cek kesehatan gratis ini juga menjadi bagian dari rangkaian workshop berdaya global bertajuk Global Talent Day yang digelar di Kota Malang. Pesantren dipilih sebagai lokasi karena dianggap memiliki kontribusi besar dalam pendidikan di Indonesia, dan pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dari pendidikan tersebut.
“Jadi ketika berbicara menggencarkan pemeriksaan kesehatan bagi anak sekolah, jangan melupakan pesantren,” ujar Leontinus.
Leontinus menekankan bahwa edukasi mengenai pola hidup sehat perlu terus digalakkan kepada generasi muda. Pemeriksaan kesehatan dianggap sebagai langkah penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini, sehingga pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih efektif, tanpa harus menunggu kondisi kesehatan memburuk.
“Ketika langkah kecil sudah dimulai, tentu dilakukan tak hanya di pesantren tetapi juga semakin luas,” ujar Leontinus.
Program ini menjadi langkah penting dalam memperluas akses kesehatan di Indonesia, dan diharapkan dapat diikuti oleh lebih banyak pesantren serta lembaga pendidikan lainnya di seluruh negeri. [luc/suf]






