Jombang (beritajatim.com)– Cucu Pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin dilantik sebagai nakhoda baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Dirinya menjabat sebagai Pj Ketua PWNU Jatim ningga nanti terpilih ketua baru definitif. Menarik dari Gus Kikin selain merupakan cucu KH Hasyim Asy’ari, ia juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang. Konon Ponpes Tebuireng ini merupakan satu dari ponpes terkenal se Indonesia bahkan hingga mancanegara.
Lalu kemudian apa keistimewaan dari Ponpes Tebuireng Jombang yang keberadaannya sangat terkenal ini? Melansir dari Portal resmi tebuireng, ponpes ini didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari di tahun 1899 M. Tebuireng awalnya hanya didirikan dari bedeng bedeng sangat sederhana seluas 200 meter dengan santri awal sejumlah 28 orang.
Banyak yang menyangsikan keberadaan Ponpes Tebuireng namun pengasuh dan santri yang mondok telah membuktikan dari masa ke masa namanya semakin harum.
Pendidikan Awal Mula Ponpes Tebuireng Secara Sorogan
Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng semula berlangsung secara sorogan (santri membaca, guru menyimak) dan bandongan (guru membaca, santri menyimak). Sejak tahun 1916 mulai dirintis pendidikan dalam bentuk klasikal, meskipun masih sangat sederhana.
Saat kepemimpinan KH. Abdul Kholiq usai KH Hasyim Asy’ari meninggal dan telah digantikan sebelumnya oleh sang putra baru kemudian KH Abdul Kholiq berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Pada masa 10 tahun pertama konsep salafiyah ini masih mengalami perubahan bentuk dan nama berkali-kali, seperti wustho, mu’alimin dan lain sebagainya.
Lambat laun sistem salafiyah ini menetap dalam bentuk yang baku, yaitu 6 tahun pendidikan dasar (ibtida’iyah), dan 3 tahun lanjutan atas (aliyah), dengan komposisi 65% mata pelajaran agama dan 35% mata pelajaran umum.
Pasca KH. Abdul Kholiq wafat kedudukan pengasuh selanjutnya dipegang KH. M.Yusuf Hasyim yang telah menjadi pengasuh dari tahun 1965 hingga tahun 2006
1970 Tebuireng Mulai Kembangkan Jalur Pendidikan Formal
Pada masa ini dikembangkan beberapa jalur pendidikan formal. Pertama, jalur pendidikan formal yang berbentuk Salafiyah disempurnakan. Kedua, jalur sekolah persiapan yang dirintis tahun 1970, dimana santri putus sekolah (drop out) dari sekolah-sekolah non agama (seperti SMU, SMP) memperoleh ajaran agama belaka.
Sekolah ini lama belajarnya 2 tahun, untuk kemudian santrinya memasuki jalur pendidikan agama di atas. Dengan demikian jalur kedua ini sebagai by-pass untuk memasuki jalur pertama pada tingkat lanjutan.
Ketiga, jalur SMP dan SMU A. Wahid Hasyim yang dibuka tahun 1975. Tujuannya adalah untuk menampung mereka yang ingin bersekolah umum, dengan tetap memperoleh pelajaran agama dalam bentuk pengajian atau kursus.
Pada tahun 1967 juga dirintis Universitas Hasyim Asy’ari dengan Fakultas Syari’ah, Da’wah dan Tarbiyah. Di tahun 2006 dibuka jenjang pendidikan Ma’had Aly (setingkat perguruan tinggi) yang disediakan khusus untuk santri-santri dengan kualifikasi dan kemampuan tertentu. Proses seleksi penerimaannya pun ketat. Jenjang pendidikan ini digagas pasca akhir kepemimpinan KH. M. Yusuf Hasim dan kini diteruskan oleh Ir. KH.Salahuddin Wahid (Gus Solah).
Karena kualitas santri dalam memahami dan mendalami kitab klasik yang menjadi rujukan pesantren selama ini menurun maka Gus Solah sejak mulai tahun 2007 mendirikan sekolah Mu’alimin yakni sekolah yang hanya belajar agama tidak ada pelajaran umumnya. Disamping itu untuk mengembangkan Pesantren Tebuireng mulai tahun 2013, Gus Solah membuka cabang di luar dusun Tebuireng. Yakni Tebuireng 2 di Jombok yang disitu juga berdiri SMA Trensains, Tebuireng 3 Hajarunnajah yang berada di Keritang Indragiri Hilir Riau dan Tebuireng 4 Al-Ishlah di Indragiri Hulu Riau.
17 Cabang Ponpes Tebuireng di Seluruh Indonesia
Hingga saat ini, Pesantren Tebuireng telah memiliki 17 cabang di seluruh Indonesia dibawah kepemimpinan KH Abdul Hakim alias Gus Kikin.
Keunikan dan cirikhas yang masih terus dilestarikan di Ponpes Tebuireng sehingga masih jadi rujukan untuk memondokkan anak yakni para santri diajarkan berbagai hal, seperti mengaji kitab kuning, tilawatil Al Quran, serta yang terpenting adalah para santri dilatih supaya memiliki moral yang baik. [aje]






