Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memiliki nahkoda baru. Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) resmi melantik Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng., sebagai Rektor periode 2025–2030.
Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Yarsis, Prof. Mohammad Nuh, di Auditorium Lantai 9 Unusa Tower, Kampus B, Sabtu (25/10/2025).
Sosok Prof. Triyogi Yuwono bukan nama asing. Ia adalah mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) periode 2011–2015.
Dengan rekam jejak mentereng, Prof. Triyogi siap membawa Unusa melanjutkan tonggak prestasi rektor sebelumnya, Prof. Achmad Jazidie, yang menjabat selama dua periode.
Dalam konferensi pers, Prof. Triyogi Yuwono langsung menegaskan komitmennya. Ia akan menjadikan Unusa agen perubahan sosial yang berdampak luas, terutama dalam kontribusi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.
“Ke depan, Unusa harus hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan. Tapi juga sebagai institusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Prof. Triyogi.
Ia menargetkan Unusa akan fokus pada tiga pilar utama SDGs, yaitu Kesehatan (SDGs-3), Pendidikan (SDGs-4), dan Lingkungan (SDGs-6). Di sisi lain, saat ini Unusa juga sudah masuk peringkat dunia 601–800 dalam pemeringkatan THE Impact Rankings untuk bidang kesehatan.
“Kami akan mencari terobosan-terobosan baru untuk membawa Unusa ke pentas dunia,” ujarnya.
Untuk mencapai visi global, Guru Besar ITS bidang konversi energi ini telah menyiapkan strategi dengan jargon GRIT. Pertama, G (Growth). Pertumbuhan Unusa dengan basis dukungan dari Nahdlatul Ulama (NU).
Kedua, R (Reinforce). Penguatan mutu akademik, mahasiswa, alumni, serta kerjasama nasional dan internasional. Selanjutnya, I dan T (Impact & Transformation). Yaitu, membangun keunggulan daya saing melalui pusat unggulan dan produk inovasi.
Targetnya ambisius. Prof. Triyogi berharap pada 2030, jumlah mahasiswa Unusa bisa menembus delapan ribu lebih. Bahkan, 10 persen anggaran kampus diharapkan berasal dari produk inovasi dan hasil kerja sama, bukan lagi dari peserta didik.
Di bawah kepemimpinannya, ia juga akan membranding Unusa sebagai kampus The Islamic Digital Health & Education University. “Ini dengan mengintegrasikan keunggulan kesehatan, digitalisasi, pendidikan, dan nilai Islam,” jelasnya.
Langkah strategis lain termasuk program beasiswa mahasiswa asing muslim, pertukaran dosen, hingga visiting professor series untuk memperkuat posisi Unusa di indikator internasionalisasi THE Impact.
Ketua Yarsis, Prof. Mohammad Nuh menekankan bahwa estafet kepemimpinan ini bukan sekadar pergantian, melainkan kesinambungan.
“Tantangan semakin unik dan kompleks. Apa yang sudah dibangun baik, kita pertahankan dan kembangkan,” kata Prof. Nuh.
Ia turut menyampaikan apresiasi tinggi kepada rektor sebelumnya, Prof. Achmad Jazidie.
“Atas nama yayasan, terima kasih banyak kepada Prof. Jazidie. Dengan 10 tahun itu, prestasi Unusa melampaui usianya,” pujinya.
Prof. Nuh meyakini, meski tugas Prof. Triyogi tidak mudah, dengan merangkul semua elemen, Unusa akan menuju fase yang lebih progresif.
“Saya sampaikan juga terima kasih kepada Prof Triyogi yang berani mengambil amanah untuk meneruskan apa yang sudah dirintis,” tutupnya. [ipl/ian]






