Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mencatat sejarah dengan mengukuhkan Prof. Dr. Sony Sukmawan, S.Pd., M.Pd. sebagai Guru Besar pertama di bidang Sastra Lingkungan. Pengukuhan ini menandai pencapaian penting dalam akademik, sekaligus memperkenalkan konsep baru yang berpotensi mengubah paradigma kajian sastra: Model Susastra Cahaya.
Konsep inovatif ini menawarkan pendekatan pembelajaran sastra berbasis ekoteologi, yang mengintegrasikan dimensi lingkungan dan spiritual. Dalam pidatonya, Prof. Sony mengkritisi kajian sastra modern yang cenderung antroposentris, hanya fokus pada manusia, tanpa memprioritaskan tanggung jawab terhadap alam.
“Kajian sastra modern sering kali mengabaikan hubungan manusia dengan lingkungan dan nilai spiritual. Sastra seharusnya menjadi media refleksi untuk memahami peran kita sebagai penjaga alam,” tegasnya.
Model Susastra Cahaya adalah pendekatan sastra yang menggunakan simbol cahaya untuk menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Cahaya adalah simbol universal yang mencerminkan kehadiran Ilahi. Dengan memahami cahaya, kita dapat menggali kedalaman spiritual sekaligus tanggung jawab ekologis manusia,” ujar penulis buku Ekokritik Sastra (2016) ini.
Konsep ini terinspirasi dari berbagai tradisi agama seperti Islam dan Hindu, yang memandang cahaya sebagai simbol kehadiran Tuhan. Melalui pendekatan ini, Prof. Sony ingin mendorong pembelajaran sastra yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mempertebal iman dan kesadaran spiritual.
“Konsep ini mengarahkan sastra ke arah peradaban pasca manusia, di mana hubungan manusia dengan alam dan Tuhan lebih seimbang. Sastra bisa menjadi medium untuk menanamkan kesadaran spiritual dan nilai keberlanjutan,” tambahnya.
Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UB, Dr. Dra. Eti Setiawati, M.Pd., menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian Prof. Sony.
“Beliau adalah Guru Besar pertama dalam bidang Sastra Lingkungan di UB, bahkan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Prodi kami mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap isu-isu global,” katanya.
Dr. Eti juga berharap gagasan ini bisa menjadi rujukan dalam pembelajaran sastra di berbagai tingkat pendidikan. “Model Susastra Cahaya sangat relevan untuk membangun generasi yang lebih peduli pada lingkungan dan memiliki kesadaran spiritual yang mendalam,” imbuhnya.
Dalam pidatonya, Prof. Sony juga mengajak masyarakat akademik untuk memanfaatkan sastra sebagai medium refleksi dalam menghadapi krisis lingkungan global.
“Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab etis, tetapi juga bentuk ibadah. Dengan pendekatan ini, sastra tidak hanya menghibur tetapi juga memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Prof. Sony menegaskan pentingnya pembaruan dalam kajian sastra untuk menciptakan peradaban baru yang lebih harmonis.
“Model Susastra Cahaya menawarkan jalan tengah di tengah tantangan modernisasi, membantu manusia untuk memahami hubungan mereka dengan alam dan Tuhan secara lebih mendalam,” tutupnya. [dan/beq]






