Yogyakarta (beritajatim.com)- Berlatarbelakang kondisi dan situasi politik yang makin memanas akhir akhir ini, segenap guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) menggagas petisi tentang Pemilu yang akan berlangsung 14 Februari 2024 mendatang. Dalam petisi yang dibacakan oleh Prof Koentjoro Soeparno seorang guru besar Fakultas Psikologi UGM ini ditegaskan jika Petisi Bulaksumur digagas bukan berdasarkan kebencian pada perorangan.
“Saya mendapatkan amanah untuk membacakan Petisi Bulaksumur. Saya sekali lagi ucapkan Bismillah bahwa apa yang saya sampaikan ini bukan berdasarkan kebencian perorangan tetapi lebih pada cinta kasih kami kepada saudara saudara kami, kepada bangsa Indonesia dan Universitas Gadjah Mada,” jelasnya di Balairung UGM Rabu (31/1/2024).
Prof Koentjoro menegaskan Gadjah Mada adalah sebuah universitas besar. Gadjah Mada merupakan almamater besar yang membuatnya bangga. Hal ini karena sejak dahulu kebanyakan lulusan UGM menjadi pemimpin negeri Indonesia.
“Dulu saya bangga karena lulusan UGM hampir menguasai negeri ini dengan pemimpin alumnus UGM. Namun hari ini ada sebuah peristiwa yang hampir membuat semuanya berbalik arah dan membuat kita hari ini harus sampaikan petisi sebagai peringatan,” bebernya.
Dalam petisi ini segenap guru besar UGM menyayangkan penyimpangan prinsip moral demokrasi, kerakyatan dan keadilan sosial dalam pelaksanaan Pemilu 2024 ini.
Adapun petisi yang ditujukan untuk Presiden Joko Widodo ini terpaksa dilakukan segenap guru besar UGM lantaran banyak terjadi penyimpangan penyimpangan yang justru semuanya dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi. [Aje]






