Pamekasan (beritajatim.com) – Produk prosiding International Conference of Islamic Studies (ICONIS) Ke-9 2025 yang digagas Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, terbit dalam Atlantis Press, salah satu penerbit bereputasi internasional terindeks Web of Science (WoS).
Kumpulan artikel atau catatan seminar dengan tema ‘Islam, Culture and STEM; Change and Sustainability in the Disruptive Era’, merupakan hasil riset dan gagasan para akademisi, peneliti, praktisi serta para pembuat kebijakan yang berpartisipasi pada ajang ICONIS 2025 UIN Madura, Rabu (30/7/2025).
Aang yang menyoroti tantangan global di era disrupsi, terutama dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan budaya. Juga menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dengan pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Sebagian dari puluhan produk hasil ICONIS 2025 diterbitkan Atlantis Press, yang memiliki koleksi besar artikel ilmiah, teknis, dan medis (STM) yang menawarkan visibilitas dan dampak bagi komunitas riset, dengan tujuan mendukung kemajuan ilmu pengetahuan melalui publikasi akses terbuka.
“Terbitnya prosiding ICONIS 2025 sejalan dengan upaya lembaga meneguhkan falsafah Asta Helix Tanèyan Lanjhâng sebagai kerangka pengembangan ilmu pengetahuan Islam integratif, konferensi ini juga menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi sebagai wujud konkrit pengembangan keilmuan yang berpijak pada iman, budaya dan etika,” kata Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, Senin (22/9/2025).
Terlebih falsafah Tanèyan Lanjhâng, lahir dari tradisi sosial budaya Madura, dan diposisikan sebagai landasan epistemologis dalam pengembangan keilmuan integratif. “Tanèyan Lanjhâng menggambarkan ruang terbuka tempat masyarakat hidup dalam kebersamaan, saling berinteraksi, dan membangun nilai-nilai kolektif. Dalam kerangka akademik,” ungkapnya.
“Falsafah ini diadaptasi untuk menghubungkan ilmu Islam dengan sains, teknologi, serta budaya global. Sehingga kita harapkan dapat melahirkan ilmu pengetahuan yang membumi dan solutif di era global seperti saat ini,” sambung Saiful Hadi.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana ICONIS ke-9 UIN Madura, Agung Dwi Bahtiar El Rizaq, menegaskan pengembangan keilmuan berbasis Tanèyan Lanjhâng sebagai langkah strategis memperkuat identitas akademik di Perguruan Tinggi yang beralamat di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan, Pamekasan.
“Tanèyan Lanjhâng bukan sekadar simbol kultural, melainkan paradigma integratif yang menjembatani tradisi lokal, nilai Islam, dan tantangan global. Dengan kerangka ini, UIN Madura berkomitmen melahirkan generasi yang berakar kuat pada budaya dan spiritualitas, sekaligus adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern,” tegasnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga menilai jika forum tersebut menjadi momen krusial mengeksplorasi persimpangan dinamis antara STEM, nilai-nilai Islam dan identitas budaya dunia yang terus berubah. “Kami berharap konferensi ini akan memicu kolaborasi produktif, refleksi kritis, dan gagasan baru yang akan berkontribusi pada sistem pendidikan lebih komprehensif, adil, dan siap menghadapi masa depan,” harapnya.
“Dengan terbitnya prosiding ICONIS 2025 di Atlantis Press, karya-karya akademik tersebut kini dapat diakses secara luas oleh masyarakat global, sekaligus memperkuat kontribusi UIN Madura dalam percaturan akademik internasional. Publikasi lengkap dapat diakses pada laman resmi: https://www.atlantis-press.com/proceedings/iconis-25/articles,” pungkasnya. [pin]/aje]






