Surabaya (beritajatim.com) – Covid-19 dikenal dengan penyakit seribu wajah, karena gejala yang ditimbulkan beragam. Salah satunya yang paling sering ditemukan adalah infeksi paru.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir transmisi dan memitigasi infeksi adalah men-inaktifkan virus, salah satunya dengan sabun-isasi. Sabun diketahui membunuh atau setidaknya menon-aktifkan virus dengan cara merontokkan atau merusak spike-virus. Itulah salah satu manfaat yang dikandung probiotik PRO EM1. Biosurfactant yang terkandung di dalamnya akan merusak dinding dan spike protein/duri coronavirus ketika terjadi kontak denga PRO EM1.
“Biosurfactant adalah senyawa alami dari yang dihasilkan oleh probiotik yang memiliki fungsi serupa dengan sabun, Biosurfactant mampu menembus lemak dan protein. Dinding dan duri coronavirus varian apapun selalu terdiri dari lemak dan protein. Lemak akan larut apabila terjadi penyabunan oleh biosurfaktan sehingga dinding virus menjadi bocor dan duri virus mrotol. Jadi biosurfaktan mampu meng inaktivasi semua varian coronavirus,” ujar Apt Ge Recta Geson Direktur PT AMA, produsen PRO-EM1, Jumat (23/7/2021).
PRO EM1 pun dapat digunakan sebagai Nano Spray yang akan masuk ke dalam tenggorokan dan hidung sehingga inaktivasi coronavirus yang berada dalam saluran pernafasan sampai paru. Dengan minum PRO EM1 akan menginaktivasi coronavirus dalam darah sampai organ.
“Dengan nanospray salah satu Probiotik di dalam kandungan PRO-EM1 adalah Phototrophic Bacteria yang merupakan salah satu konten multistrain probiotik dlm PRO EM1 bisa memproduksi oksigen selama 24 jam dan membersihkan gas dan zat beracun dalam usus,” terang Recta.
Juga, PRO EM1 mengandung Antiinflamasi yang kuat seperti gingerin, embelin, 16 alpha-dehydroxysterone, diallyl sulfide yang mampu mencegah terjadi badai sitokin penyebab peradangan hebat. Badai sitokin pd paru mengakibatkan terjadinya ARDS atau gagal nafas.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pro-em”]
Keempat, dalam uji klinik yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo terbukti PRO EM1 memodulasi respon imun/sitokin menjadi seimbang. Yakni antara sitokin proinflamasi dengan sitokin antiinflamasi.
“Seperti kita ketahui bahwa infeksi Covid-19 memakan korban pada orang yang memiliki masalah respon imun. Pada orang dengan masalah respon imun rendah (sitokin antiinflamasi dominan), maka coronavirus berbiak menjadi banyak tidak terkendali sehingga mengakibatkan infeksi hebat penyebab kerusakan paru-paru dan organ lain,” tambahnya.
“Demikian pula pada orang dengan respon imun berlebihan (dominasi sitokin proinflamasi) akan terjadi badai sitokin setelah terpapar coronavirus. Keradangan yang hebat akan merusak paru-paru dan organ lain. Orang yang memiliki respon imun seimbang akan bisa hidup damai berdampingan dgn COVID-19. Apabila terpapar coronavirus tidak terjadi keradangan hebat akibat badai sitokin dan tidak terjadi infeksi hebat. Sitokin proinflamasi yang dimodulasi PRO EM1 akan mengaktivasi NKCell untuk mencari dan memfagositosis coronavirus,” pungkasnya. (ted)







