Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia, khususnya kategori lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi, diimbau untuk tidak memaksakan diri mengejar ibadah Arbain di Masjid Nabawi demi menjaga stamina menjelang puncak haji di Arafah. Langkah ini sangat krusial mengingat cuaca ekstrem di Arab Saudi dan padatnya jadwal kedatangan yang saat ini telah mencapai 72 kloter dengan total 28.004 jemaah di Madinah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, edukasi mengenai manajemen energi ini terus digencarkan oleh para pembimbing ibadah kepada jemaah yang baru mendarat. Tujuannya adalah agar jemaah tidak mengalami kelelahan hebat sebelum ritual utama haji dimulai di Makkah.
Anis Diyah Puspita, Petugas Pembimbing Ibadah PPIH Arab Saudi Daker Bandara, menekankan bahwa kesehatan adalah modal utama untuk meraih predikat haji mabrur. “Jemaah terutama banyak yang lansia. Sehingga jemaah tidak harus diturut Arbain,” ujarnya di Madinah, Minggu (26/4/2026).
Memahami Status Hukum Arbain
Secara teknis, Arbain adalah melaksanakan salat fardu sebanyak 40 waktu secara berjamaah tanpa terputus di Masjid Nabawi. Namun, banyak jemaah—termasuk dari berbagai wilayah di Jawa Timur—yang merasa terbebani secara fisik untuk menyelesaikan target ini meskipun kondisi tubuh sedang menurun.
Anis mengklarifikasi bahwa secara syariat, Arbain bukanlah penentu keabsahan haji. “Ibadah Arbain tidak menjadi bagian dari rukun dan wajib haji, jadi Arbain tidak menjadi bagian dari rangkaian haji itu sendiri. Sehingga tidak berpengaruh terhadap keabsahan ibadah jemaah haji,” tegas Anis.
Petugas mengingatkan bahwa prioritas tertinggi adalah memastikan jemaah tetap dalam kondisi prima saat memasuki fase puncak di Makkah kelak. Hal ini menjadi perhatian serius Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI yang tahun ini menangani setidaknya 5.655 jemaah lansia pada gelombang pertama.
Edukasi “Ibadah Cerdas” di Hotel
Bimbad Daker Bandara terus mengimbau jemaah untuk berani mengambil keputusan beristirahat jika merasa kurang fit. Pilihan untuk melaksanakan salat fardu di hotel pemondokan di sekitar Masjid Nabawi juga tetap memiliki keutamaan dan pahala yang besar tanpa harus mempertaruhkan kesehatan fisik.
“Karena jangan sampai jemaah dituntut harus 40 waktu salat di Masjid Nabawi, justru ketika wukuf di Arafah pada saat puncak haji jemaah kelelahan dan sakit,” tambah Anis.
Setiap kedatangan kloter, petugas selalu menyampaikan bahwa selagi sehat, jemaah dipersilakan mengoptimalkan ibadah di masjid. Namun, jika merasa lelah, jemaah disarankan untuk segera beristirahat. “Kalau merasa lelah ya sudah solat aja di hotel. InsyaAllah tetap berpahala,” pungkasnya.
Hingga saat ini, proses mobilitas jemaah dari Bandara Madinah ke hotel dilaporkan berjalan lancar. Pihak MHC Kemenhaj RI terus memantau agar jemaah dari berbagai embarkasi, termasuk Surabaya (SUB), mendapatkan kenyamanan akomodasi dan asupan katering yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh mereka. [ian/MCH/but]






