Ringkasan Berita
- Seorang pria tak dikenal tertemper Kereta Api Supaspro Probolinggo–Surabaya di jalur rel Bayeman, Jumat malam. Korban ditemukan Sabtu dengan luka parah.
- Masinis KA Supaspro sudah membunyikan klakson berkali-kali, tetapi korban tetap berada di rel. KAI menegaskan jalur rel adalah area steril dan berisiko fatal.
- Tim gabungan Polsuska, Polsek, dan Koramil Sumberasih mengevakuasi korban. Kejadian menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keselamatan rel kereta.
Probolinggo (beritajatim.com) – Insiden mengerikan terjadi di jalur rel kereta api wilayah Bayeman, Kabupaten Probolinggo. Seorang pria tak dikenal (OTK) tertemper Kereta Api PLB 460B CL Supaspro relasi Probolinggo–Surabaya hingga mengalami luka parah, Jumat (8/5/2026) malam.
Korban baru ditemukan pada Sabtu (9/5/2026) saat tim gabungan melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian di KM 93+800 hingga KM 94+300, petak jalur antara Stasiun Probolinggo dan Stasiun Bayeman.
Informasi yang dihimpun, insiden bermula saat korban berada di jalur rel kereta api ketika KA Supaspro melaju dari arah timur. Masinis kereta disebut telah berulang kali membunyikan semboyan 35 atau klakson lokomotif sebagai peringatan keras agar korban menjauh dari lintasan.
Namun nahas, jarak yang terlalu dekat membuat tabrakan tak terhindarkan. Tubuh korban langsung terpental usai tertemper rangkaian kereta yang melaju kencang.
Manager Hukum dan Humas PT KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, membenarkan adanya kejadian tersebut. Laporan pertama diterima dari masinis sekitar pukul 21.30 WIB.
“Masinis sudah berkali-kali memberikan peringatan suara, tetapi karena posisi korban terlalu dekat dengan jalur, insiden tidak bisa dihindari,” ujar Cahyo, Sabtu (9/5/2026).
Pasca kejadian, petugas Polsuska Daop 9 Jember bersama sekuriti Stasiun Bayeman langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengamanan. Aparat dari Polsek dan Koramil Sumberasih juga diterjunkan guna membantu proses pencarian dan evakuasi korban.
Kondisi korban saat ditemukan disebut mengalami luka sangat parah akibat benturan keras dengan rangkaian kereta api.
Insiden ini kembali menjadi peringatan keras tentang bahaya beraktivitas di sekitar rel kereta api. KAI menegaskan jalur rel merupakan area steril yang tidak boleh digunakan masyarakat untuk berjalan, duduk, maupun aktivitas lainnya karena berisiko fatal.
“Kereta api tidak dapat berhenti mendadak karena membutuhkan jarak pengereman panjang. Keselamatan harus menjadi prioritas bersama,” tegas Cahyo. [rap/suf]






