Surabaya (beritajatim.com) – Prevelensi stunting Jawa Timur diperlukan adanya percepatan agar mencapai target 14 persen pada 2024 mendatang. Pasalnya, saat ini tingkat stunting di Jatim masih berada di angka 19,2 persen.
Karena itulah, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menekankan efektifnya intervensi para bidan dalam menurunkan angka stunting di Jatim. “Kami selalu menekankan pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak. Angka 14 persen ini bukan sekedar target, tapi menentukan masa depan bangsa,” ujar Khofifah di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (11/2/2023).
Gubernur perempuan pertama di Jatim itu menjelaskan, bidan adalah sosok garda terdepan yang bisa memberikan pendampingan, pengetahuan, dan dukungan kepada para ibu sejak masa kehamilan hingga bayi berusia 5 tahun.
[berita-terkait number=”5″ tag=”stunting”]
Hal terpenting, kata dia, para bidan tersebut bisa memberi penyuluhan kepada para ibu terkait pola asuh yang benar. Sehingga, peran seorang bidan sangat signifikan dalam penurunan angka stunting pada anak.
“Bidan adalah garda terdepan, ujung tombak tenaga kesehatan. Merekalah yang selalu mendampingi para ibu, baik semenjak awal kehamilan sampai sang anak mencapai usia lima tahun,” jelasnya.
Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut juga mengatakan, bahwa persoalan stunting di Jatim harus bisa dipangkas agar menciptakan generasi yang berkualitas. “Stunting harus dipangkas untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Keikhlasan panjenengan (bidan) untuk menciptakan generasi yang sehat bebas stunting akan menjadi amal jariyah panjenengan semua,” katanya.
Sementara Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo memberikan apresiasinya atas dedikasi para bidan, sehingga angka stunting di Jatim berada di bawah 20 persen.
“Ada yang bilang bidan bukan segalanya, tapi tanpa bidan BKKBN bukan apa-apa. Jatim mengalami penurunan yang sangat signifikan, yaitu turun 4.2 persen, menjadi 19,2 persen pada tahun 2022. Angka ini di bawah 20 persen dari sebelumnya,” ungkapnya. [ipl/kun]






