Surabaya (beritajatim.com) – Calon presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ia akan tetap pertahankan kebijakan luar negeri non blok dalam menghadapi dinamika global yang cepat berubah.
Hal itu ia sampaikan dalam acara ‘Pidato Calon Presiden Republik Indonesia: Arah dan Strategi Politik Luar Negeri’ yang digagas oleh Centre for Strategis and International Studies (CSIS) di Jakarta.
“Sejak awal kemerdekaan, kami menerapkan politik luar negeri yang independen, berpedoman pada prinsip politik luar negeri non-blok. Tradisi politik luar negeri kami selalu non-blok, dan kami tidak menginginkan tergabung dalam blok geopolitik manapun,” katanya.
BACA JUGA:Sepanjang 2023 Banyuwangi Bangun dan Perbaiki 52 Jembatan
Prabowo menjelaskan, bahwa kebijakan ini dirancang oleh para pendiri bangsa dan merupakan cara terbaik yang diinginkan oleh rakyat Indonesia. Selain itu, kebijakan non blok sangat cocok untuk kepentingan Indonesia.
“Tradisi ini, saya berkomitmen untuk melanjutkan dan mempertahankannya. Karena ini bukan hanya tradisi kami, tapi keinginan rakyat kami. Lebih penting lagi, ini demi kepentingan nasional kita,” imbuhnya.
Prabowo menyatakan Indonesia berada di tengah-tengah jalur perdagangan yang sangat penting sekaligus jalur perairan strategis yang penting bagi banyak negara lain.
“Kita bergantung pada perdagangan, oleh karena itu sudah menjadi kepentingan kami untuk memiliki tradisi yang disebut dengan good neighbors policy. Kami ingin mempertahankan good neighbors policy di kawasan kami dan juga di dunia,” kata Prabowo.
BACA JUGA:Disorot Aiman Soal Pengintegrasian CCTV, Ini Jawaban Kapolres Blitar Kota
Prabowo juga menekankan pentingnya membangun banyak hubungan baik, dan menghindari permusuhan.
“Seribu teman hanya sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kita membutuhkan perdamaian dan stabilitas agar perekonomian kita dapat berkembang dan membawa kemakmuran bagi rakyat,” ujarnya.
Prabowo menyadari bahwa kebijakan tersebut tidak mudah dilakukan. Namun, ia tetap bersikukuh akan tetap menjalin kemitraan dengan banyak pihak.
“Memang mudah diucapkan, namun tidak mudah untuk dilaksanakan. Walaupun mereka tidak mau berteman dengan saya, saya tetap ingin berteman dengan mereka. I learned it the hard way,” bebernya. (Tok/Aje)






