Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berpesan agar para PPPK tidak bergaya hidup secara hedonis. Terlebih hidup bermewah-mewahan secara berlebihan untuk dipamerkan di media sosial.
“Apakah guru yang ada di sini ada yang SK-nya sudah ‘disekolahkan’? Sebenarnya tidak apa-apa ‘disekolahkan’, asal untuk hal-hal yang produktif. Jangan untuk hal-hal yang konsumtif,” ucap Ipuk.
PPPK Banyuwangi Dilarang Hedonis, Bisa Berujung Tragis
Ipuk juga mengingatkan bahaya judi online (judol) kepada para PPPK yang hadir. Jeratan judol, kata dia, telah berdampak buruk pada orang-orang yang terjerat. Tak sedikit pula, nasib korban berakhir dengan tragis. Judol juga bisa membuat pelakunya berurusan dengan hukum.
“Kami berharap kontrak PPPK bapak-ibu sekalian bisa diperpanjang nantinya berkat kinerja baiknya. Jangan sampai, kontrak ini terputus karena hal-hal yang sepele,” lanjutnya.
Sebelumnya, Pemkab Banyuwangi telah memberikan edukasi terhadap PPPK dari ancaman pinjaman online dan judi online. Edukasi literasi keuangan diberikan agar para ASN khususnya guru dapat bijak dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Suratno menambahkan, sekitar 3 ribu dari 5 ribuan guru di non-PNS di Banyuwangi telah diangkat menjadi PPPK.
“Kami ingin memberikan bekal kepada para guru supaya mereka bisa mengatur keuangan secara baik, sehingga bisa nyaman dan lancar dalam bekerja mendidik anak-anak kita,” tambah Suratno.
Suratno menyebut, selain pinjol dan judol, risiko lain yang perlu diantisipasi adalah investasi bodong.
“Pengalaman kami, beberapa ASN di Banyuwangi, termasuk guru, pernah tertipu investasi tersebut dengan berbagai modus,” pungkasnya. [rin/beq]






