Ibu Kota Nusantara (beritajatim.com) – Presiden Joko Widodo mengungkapkan, potensi zakat di Indonesia diperkirakan mencapai Rp300 triliun. Potensi besar itu mesti digali dan dikelola dengan baik, sehingga memberikan manfaat besar kepada rakyat, khususnya umat Islam.
“Dengan populasi 236 juta Muslim, tentu potensi zakat yang kita miliki sangat besar. Kita perlu menggali dan mengelolanya dengan baik agar bisa berdampak luas,” ujar Presiden Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas di Istana Negara, Ibu Kota Nusantara, Rabu (25/9/2024) mengutip Kemenag.go.id, Kamis (26/9/2024).
Zakat bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi umat, khususnya bagi usaha mikro, kecil, perempuan, dan penyandang disabilitas. Jokowi optimistis, Baznas dapat terus menjadi lembaga terpercaya dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah, serta memperkuat ekonomi umat di Indonesia.
Kementerian Agama menegaskan komitmen dalam mendukung tata kelola zakat yang efektif dan akuntabel. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur, mengatakan Kemenag berkomitmen untuk melakukan pembinaan dan pengawasan Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) agar dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal.
“Kementerian Agama bertanggung jawab memastikan tata kelola zakat yang baik, mulai dari pembentukan Baznas dan LAZ hingga pengawasan terhadap pendayagunaannya,” jelas Waryono.
Salah satu fokus utama dalam Rakornas ini adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) amil zakat. Saat ini, dari 12.225 amil yang tersebar di BAZNAS dan LAZ, hanya 12 persen yang tersertifikasi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Kemenag berkomitmen meningkatkan angka tersebut dalam menghadapi tantangan pengelolaan zakat yang semakin kompleks. “Kualitas dan kuantitas amil zakat masih menjadi tantangan besar. Karena itu, peningkatan SDM amil zakat menjadi prioritas kami,” pungkas Waryono. [air]






