Surabaya (beritajatim.com) – Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Surabaya Raya menggelar seminar untuk mengkaji peran santri menghadapi era globalisasi. Kegiatan ini sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H.
Kepala Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan bahwa seminar tersebut sebagai implementasi ekonomi pondok pesantren lewat pembahasan ilmiah berupa seminar dan wawasan.
Dalam seminar itu, dibongkar sejumlah strategi dan peluang agar ekosistem ekonomi pesantren tetap kokoh. Selain itu, juga ada pameran produk UMKM. “Ponpes Nurul Jadid berupaya mendorong para santri bergerak ke arah ekonomi di dalam pelayanan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 disebutkan ada tiga fungsi pesantren. Yaitu sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, dakwah pengkaderan serta pelayanan masyarakat.
Ia menilai, proses di internal pesantren memilki tujuan utama pengabdian kepada masyarakat. Berbuat sesuatu dan berjuang agar lebih baik. Sehingga, santri harus menjalankan tiga fungsi tersebut. “Sementara ke depan, tantangannya dalam bidang ekonomi,” jelasnya.
Kiai Hamid menceritakan, pada 1992 telah berlangsung KTT Asia Pasifik, dengan mengundang kepala negara anggota. Di tahun 2020, negara-negara konferensi sepakat memasuki gerbang global penuh. Artinya, negara tak lagi memproteksi, tarif bea masuk dan lainnya.
Namun, tanpa disangka di tahun 2020 pandemi Covid-19 melanda. “Orang-orang mungkin lupa. Tapi begitu selesai mereka sadar dan ingat lagi pada perjanjian itu. Ini akan segera menjadi sebuah gelombang besar,” ungkapnya.
Baca Juga: Setelah Kebakaran, Gunung Bromo Probolinggo Kembali Dibuka Hari Ini
Kiai Hamid menyebut jika seminar ini juga membahas terkait revolusi industri 4.0. Dimana, teknologi informasi berkembang pesat sejalan pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
Menurutnya, hal itu kian menambah daftar gelombang globalisasi. Pihaknya sendiri mengambil peran dan fungsi melalui Society 5.0. “Saya kira itu tidak hanya kita bicarakan tapi harus kita lakukan, dan kita pecahkan masalah teknis maupun ideologis yang ada di dalamnya dan mengambil bagian,” terang dia.
Kiai yang aktif dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren tersebut menambahkan pihaknya sudah mempersiapkan sejumlah langkah strategis melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dan lintas sektor.
Ponpes Nurul Jadid bersama 14 pesantren besar juga telah menandantangani Deklarasi Surabaya bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan pada 2019.
Jatim sendiri memiliki tiga distribution center dan memilih menjadi akses pemasaran. Ada tiga pondok pesantren dilibatkan yakni Ponpes Nurul Jadid, Tambak Beras dan Sunan Drajat. “Proses produksi dan macam-macam itu sudah dianggap selesai oleh Jatim,” kata Kiai Hamid.
Ponpes Nurul Jadid, lanjut dia, terus mengembangkan ekosistem jaringan sebagai kerangka pemberdayaan ekonomi. “Nah, sekarang kita belajar itu dan belajar dari aspek-aspek yang memperkuat akselerasi ekonomi. Kecil-kecil tetapi berkolaborasi,” ungkapnya. [ipl/ted]






