Ponorogo (beritajatim.com) – Bagi mereka yang lahir pertengahan 2000-an mungkin belum tahu keberadaan jeruk keprok khas Pulung. Varietas jeruk yang khas dari wilayah Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, sempat berjaya di masa 1970-an.
Petaka terjadi di pertengahan 1980 hingga 1990-an. Saat itu, jeruk keprok pulung terkena wabah Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). Akibat penyakit itu, produksi buah dari jeruk keprok pulung ini pun menjadi turun drastis. Dengan keadaan itulah, tidak banyak petani yang mempertahankan jeruk dengan varietas yang cukup langka ini di Kabupaten Ponorogo.
Namun, asa untuk melihat kembali pohon jeruk keprok pulung yang pernah menjadi primadona masa lalu itu, akhirnya bisa terwujud. Setelah pasangan petani dari Desa Singgahan Kecamatan Pulung Ponorogo itu membudidayakan lagi jeruk khas daerah Ponorogo bagian timur tersebut.
Pasangan petani itu ialah Salason (65 tahun) dan Supini (59 tahun). Mereka mencoba mengembangkan kembali buah yang biasanya disebut jeruk pulung di lahan miliknya. Di lahan dengan ukuran 40 meter kali 20 meter itu, kedua petani itu menanam sedikitnya 200 pohon jeruk keprok pulung.
“Dulu jeruk ini memang sangat banyak di Kecamatan Pulung. Tetapi sekitar tahun 1980 atau 1990-an, banyak tanaman jeruk milik warga yang terserang penyakit CVPD. Ya akhirnya banyak yang mati dan produksinya menurun drastis,” kata Loso panggilan akrab Salason, Jumat (10/05/2024).
Jerik payah Loso dan istrinya bertahun-tahun membudidayakan jeruk ini, nampaknya sudah membuahkan hasilnya. Ratusan pohon jeruk itu pun kini sudah mulai berbuah. Hasil panen jeruknya itu, kata Loso, biasanya dijual kepada tengkulak dengan harga Rp15 ribu per kilogramnya untuk kualitas biasa. Kemudian mematok harga Rp45 ribu per kilogram untuk kualitas yang super.
“Yang kualitas biasa dijual Rp15 ribu per kilogram. Untuk yang kualitas super dijual dengan harga Rp45 ribu per kilogram,” katanya.
Melihat potensi ke depan yang lebih besar, Loso pun juga membuka untuk agrowisata. Seperti wisata petik apel di Batu Malang, Ia juga membuka pengunjung yang datang ke kebun jeruknya, bisa membeli secara langsung dengan memetik sendiri buah jeruknya.
“Jika ingin menikmati waktu berkualitas dengan keluarga, bisa berkunjung ke kebun jeruk ini, bisa metik sendiri,” pungkasnya.
Eka Sri Yunita, salah satu pengunjung mengaku dirinya datang ke kebun jeruk tersebut karena penasaran. Ia mendapat cerita dari suaminya bahwa ada kebun jeruk keprok khas pulung yang akhirnya tumbuh lagi, setelah beberapa tahun sulit untuk mencarinya. Ia pun akhirnya mengajak suami dan anaknya untuk mengunjungi kebun jeruk tersebut. Warga Desa Plunturan Kecamatan Pulung itu, juga sempat memetik sendiri jeruknya.
“Ya kebetulan kan anak juga libur sekolah, ya akhirnya minta suami untuk mengantarkan ke kebun jeruk tersebut. Lokasinya juga tidak jauh, masih di Kecamatan Pulung,” katanya.
Eka juga merasa puas saat dirinya memetik sendiri buah jeruknya. Hal itu, menurutnya sebuah pengalaman yang mengesankan untuk dirinya dan anak mereka. Setelah memetik, Ia pun bisa langsung untuk memakannya.
“Rasanya sih menurut saya campur-campur, ada rasa enak, segar, manis dengan sedikit rasa kecut yang menyegarkan,” pungkasnya. [end/beq]






