Malang (beritajatim.com) – Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dari unsur masyarakat Poengky Indarti meminta agar Briptu FN, polwan yang bakar suami di Asrama Polisi (Aspol) Mojokerto, dicek kondisi kejiwaannya. Menurut dia, bisa saja pelaku mengalami postpartum depression, mengingat Polwan tersebut belum lama melahirkan.
Lantas publik banyak bertanya apa yang dimaksud dengan postpartum depression ini? Psikolog Universitas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa postpartum depression adalah sebuah gangguan kejiwaan.
Secara spesifik, postpartum depression adalah gangguan mood atau gangguan yang menyerang pada mood seseorang atau emosional.
“Bahwa Polwan mengalami postpartum menurut saya perlu asesmen lebih dalam karena kalau kita bicara postpartum depression itu tidak tiba-tiba langsung terjadi, pasti ada faktor penyebabnya,” ucap Uun pada beritajatim.com, Rabu (12/6/2024).
Dijelaskan dosen psikologi UMM itu bahwa seseorang yang terkena sindrom postpartum biasanya terkena baby blues syndrome dahulu. Baby blues syndrome itu terjadi pada hari ketiga atau hari keempat kelahiran anak hingga dua minggu pasca kelahiran.
“Cirinya dia memang mengalami depresi ringan. Depresi ringan tetapi dia masih mampu untuk mengurus bayinya. Artinya baby blues ini disebabkan karena faktor fisiologis, biologis, dan psikologis,” ucapnya.
Menurut Uun, fase baby blues sedikit berbeda dengan postpartum depression. Biasanya bisa terdiagnosa postpartum depression pasca 1 bulan melahirkan. Dalam kondisi tertentu, orang itu mengalami postpartum sampai satu tahun bila dikroscek.
“Apakah yang bersangkutan ini sudah melewati fase tersebut atau tidak? Nah kalau bicara tentang postpartum faktor penyebabnya berbeda dengan faktor penyebab dari baby blues,” jelasnya.
Baby blues terjadi karena faktor penyebabnya adalah faktor fisik, biologis, faktor psikologis dari ibu. Sementara itu, faktor penyebab postpartum depression adalah faktor psikososial artinya psikis, sosial, dan faktor lingkungan.
Bentuk postpartum depression sebenarnya hampir mirip dengan ciri-ciri depresi. Seseorang yang mengalami ini mulai menarik diri dari kehidupan sosial, kemudian mengalami perubahan mood.
“Kemudian extremely bentuk sindromnya yang berbeda dengan depresi adalah dia terjadi pasca 1 bulan kelahiran anak,” ujar Pakar psikologi UMM ini.
Untuk meminimalisir terjadi postpartum depression, kata dia, dapat ditinjau dengan melihat penyebab utama berupa psikososial. Faktor tersebut melibatkan faktor lingkungan sehingga langkah utama yang harus dilakukan adalah memperkuat support system atau orang-orang terdekat.
“Untuk memberi support atau untuk memberikan satu ketenangan bagi orang tersebut. Misal memang ini terjadi pada Polwan itu, artinya memang orang terdekatnya yang paling mungkin untuk memberi support sehingga yang bersangkutan harapannya tidak merasa sendirian dan merasa ada yang membantu,” ucapnya.
Apalagi jika dilihat dari kasus di Mojokerto, korban dan pelaku memiliki dua bayi. Secara psikologis dua bayi jauh lebih berat daripada hanya satu bayi. Secara tanggung jawab sosial, finansial, dan kesiapan psikologis lebih sulit ketika punya dua bayi.
“Terkait ciri postpartum, yang perlu diketahui adalah rendahnya harga diri atau orang itu merasa tidak mampu untuk melakukan apapun. Salah satu juga cirinya dan terjadinya 1 bulan pasca melahirkan,” tutup Uun dengan tegas. [dan/beq]






