Politik Pemerintahan

Seorang Nenek Menangis, Wabup Jember: Jangan Doakan Jelek Orang Lain

Jember (beritajatim.com) – Khotimah menangis saat bertemu Wakil Bupati Abdul Muqiet Arief di lantai bawah kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (22/12/2020). Perempuan warga Desa Sempolan, Kecamatan Silo, yang berusia 61 tahun ini adalah salah satu pendukung Muqiet yang berunjuk rasa di depan kantor Pemkab.

Khotimah dalam bahasa Madura meminta Muqiet bersabar. “Pasabber empiyan (Bersabarlah Anda),” katanya sembari menepuk-tepuk dada sebelah kiri pria yang akrab disapa Kiai Muqiet. Sementara Muqiet memegang bahu perempuan tersebut.

Muqiet juga meminta Khotimah bersabar. Saat Khotimah mendoakan buruk terhadap Bupati Faida, Muqiet langsung memotong. “Empon, je’ adhuwe’agi se jube’. Empon, empon, je’ adhuwe’agi reng lain se jube’. Sedejeh dhuwe’agi se begus. Pasabber, pasabber. Sakalangkong, sakalongkong,” katanya sambil memegang kepala Khotimah.

(Terjemahan: ‘Sudahlah, hangan mendoakan yang buruk. Sudahlah, sudahlah, jangan mendoakan jelek orang lain. Semua didoakan yang bagus. Bersabarlah, bersabarlah. Terima kasih, terima kasih).

Khotimah mengaku kasihan kepada Muqiet dan berdoa agar sang kiai panjang usia. “Neser kiai, kiai cokocoh bi’ Faida. Perak e gebei can macanan kaddu’ bi’ Faida,” katanya. (Terjemahan: kasihan dengan kiai, dipermainkan (Bupati) Faida. Cuma dibuat can macanan kaddu’ oleh Faida. Can macanan kaddu’ adalah nama kesenian tradisional khas Pendalungan.).

Bukan hanya Khotimah yang menangis. Salah satu santri, Guntur, juga menangis saat bertemu Muqiet. Muqiet mengatakan, semua persoalan akan ada solusinya. “Salam buat teman-teman, sekarang pulang ya. Sekarang musim corona,” katanya kepada Guntur.

Ribuan santri dan pendukung Muqiet berunjuk rasa di depan kantor Pemkab Jember, di Jalan Sudarman, Selasa (22/12/2020), karena marah setelah mendengar sang kiai ditekan dan disalahkan dalam pertemuan di kantor Kejaksaan Negeri pekan sebelumnya.

Pertemuan yang melibatkan Bupati Faida, Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Agus Taufikurrahman, dan beberapa pejabat tersebut itu membicarakan masalah Kedudukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja (KSOTK).

Pertemuan berlangsung sekitar dua jam. “Saya sampai menjelang magrib di situ, dan saya betul-betul merasakan sangat tertekan, karena semuanya tertuju kepada saya sendiri. Dan saya dipersalahkan betul. Itu pengalaman paling pahit saya kira,” kata Muqiet, Jumat (18/12/2020).

Muqiet dianggap bersalah, setelah mengembalikan jabatan 370 orang aparatur sipil negara (ASN) sebagai konsekuensi dari pelaksanaan rekomendasi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, tertanggal 11 November 2019.

Faida sendiri mengatakan kepada pers, bahwa kedatangannya ke kejaksaan untuk berkonsultasi soal pencairan anggaran. Dia membantah jika ada upaya menyalahkan pihak lain. “Fokusnya mencari solusi pencairan. Karena di sana ada hak-hak ASN (Aparatur Sipil Negara), hak-hak pihak ketiga, yang tidak bisa dicairkan karena perubahan KSOTK kemarin,” katanya. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar