Ringkasan Berita:
- SDN Tlomar 2 di Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, masih mengalami kerusakan bangunan parah selama sekitar satu dekade tanpa perbaikan berarti.
- Kondisi ruang kelas yang berlantai tanah dan beratap rapuh membuat proses belajar mengajar berlangsung tidak aman dan tidak nyaman bagi siswa maupun guru.
- Minimnya fasilitas serta status tanah sekolah yang masih berstatus percaton menjadi hambatan utama dalam proses renovasi dan pengajuan bantuan pembangunan.
Bangkalan (beritajatim.com) – Puluhan siswa di SDN Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, harus menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas dengan kondisi yang jauh dari layak.
Selama kurang lebih satu dekade terakhir, bangunan sekolah tersebut belum tersentuh perbaikan signifikan meskipun kerusakan terus bertambah parah dari waktu ke waktu.
Kondisi ruang kelas saat ini sangat memprihatinkan. Lantai masih berupa tanah dan batu, sementara bagian atap bangunan terlihat rapuh dan mengkhawatirkan. Situasi ini membuat siswa dan guru harus tetap beraktivitas dengan rasa was-was, terutama ketika musim hujan disertai angin kencang yang berpotensi memperburuk kondisi bangunan.
Kepala SDN Tlomar 2, Okta Tricahyana, menyebut kerusakan bangunan sudah terjadi sejak dirinya mulai bertugas pada 2015. Hingga kini, berbagai upaya pengajuan bantuan perbaikan yang dilakukan pihak sekolah belum membuahkan hasil nyata.
“Kami khawatir kalau atap di sini jebol. Kasihan para siswa dan guru yang setiap hari beraktivitas di dalam kelas,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, kondisi semakin mengkhawatirkan saat musim hujan karena risiko kerusakan bangunan meningkat. Sementara pada musim kemarau, debu dari lantai tanah kerap beterbangan dan mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar.
Okta menjelaskan salah satu kendala utama yang menghambat perbaikan adalah status lahan sekolah yang masih tercatat sebagai aset desa atau tanah percaton.
“Tanah sekolah ini masih berstatus percaton sehingga menjadi kendala dalam proses pengajuan pembangunan maupun renovasi,” katanya.
Minimnya sarana dan prasarana juga berdampak pada menurunnya jumlah siswa. Banyak orang tua akhirnya memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain yang dinilai lebih layak dari sisi fasilitas.
Saat ini, jumlah siswa di SDN Tlomar 2 hanya sekitar 50 anak. Dalam satu kelas, rata-rata hanya terdapat enam hingga sepuluh siswa. Sekolah tersebut juga tidak memiliki ruang guru, perpustakaan, maupun toilet yang memadai.
Dari enam ruang kelas yang ada, tiga di antaranya mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan secara optimal. Akibatnya, ruang kelas yang masih bisa digunakan harus disekat untuk menampung seluruh kegiatan belajar mengajar.
“Kami hanya bisa berharap ada bantuan perbaikan agar anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman dan aman,” tutup Okta. [sar/suf]






