Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Pimpinan DPRD Surabaya Terima Keluhan Honor Kader Kesehatan dan Modin Belum Cair

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti

Surabaya (beritajatim.com) – Ojok ngenteni kader bengok (jangan menunggu kader teriak). Itulah respons kekesalan Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti saat mengetahui sejak Januari honor kader kesehatan dan modin tak kunjung cair.

Reni mengatakan saat reses banyak warga wilayah Wonokromo dan Ngagel Rejo yang sambat ke dirinya karena honor mereka belum cair. Menurutnya, Pemkot Surabaya sudah bagus dengan menaikkan honor mereka tetapi pencairan sebaiknya juga lancar.

Tak hanya itu, beban kerja mereka pun terus bertambah. Peran sosial para kader kesehatan serta modin inilah yang membuat Pimpinan DPRD Surabaya itu memberi atensi tinggi terhadap kontribusi besar mereka.

“Untuk honor kader yang belum cair ini menjadi perhatian yang nantinya menjadi saran dan masukan untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya,” katanya saat dihubungi, Rabu (16/2/2022).

Bagi Reni, fungsi wakil rakyat turun ke masyarakat untuk mendengar serta mendorong secara langsung kepada Pemkot Surabaya terkait apa yang menjadi pemenuhan kebutuhan warga.

Para kader kesehatan di wilayah Wonokromo dan Ngagel Rejo misalnya mengeluhkan hal serupa terkait insentif bulan Januari dan Februari 2022 yang belum dicairkan. Mereka juga sempat mengusulkan terkait pembayaran agar dilakukan di awal bulan.

Legislator PKS Surabaya ini pun menjelaskan bahwa perihal mekanisme penyelesaian administrasi SPJ perlu dilakukan demikian sehingga honor baru akan dicairkan ketika akhir bulan.

“Saya berharap pembayaran insentif oleh Pemkot Surabaya kepada para pengurus kampung ini dapat berjalan dengan lancar,” katanya.

Informasi keterlambatan pencairan honor ini pun dialami pula oleh Modin. Hal ini, tambah Reni, telah menjadi komitmen Pemkot Surabaya dalam rangka pemenuhan biaya jasa pelayanan bagi warga pelayan masyarakat.

Diketahui alokasi APBD tahun 2022 untuk insentif para kader kesehatan mengalami kenaikan signifikan dari yang sebelumnya Rp 30.000 menjadi Rp 400.000 per bulannya. Selaras, insentif modin juga mengalami peningkatan dari sebelumnya Rp 400.000 menjadi Rp 800.000.

“Jasa dan dedikasi panjenengan begitu besar, (sebelumnya) dibayar 30 ribu mlaku, saiki durung oleh bayaran yo tetep mlaku,” ucap Reni mengapresiasi para kader kesehatan.

Hal ini pun selaras dengan banyaknya aplikasi Pemkot yang perlu digunakan oleh para kader sehingga turut menambah beban kerja mereka, salah satunya aplikasi sayang warga.

“Aplikasi sayang warga bagus tapi Pemkot juga perlu juga sayang kader,” pungkas Reni.(asg/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar