Ngawi (beritajatim.com) – Pemkab Ngawi pernah merencanakan pembangunan jembatan penghubung Desa Sidolaju Kecamatan Widodaren dan Desa Gembol Kecamatan Karanganyar. Namun, pembangunan itu masih urung hingga saat ini.
Bahkan, karena perahu penyeberangan rusak, warga masyarakat membuat jembatan bambu yang dibangun secara swadaya dan ala kadarnya. Ditambah, saat i i musim kemarau, memubgkinkan bagi warga untuk membuat jembatan bambu agar perahu tidak kandas. Namun, jembatan non permanen itu bisa hancur atau rusak jika sewaktu-waktu Bengawan Solo meluap.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (,DPUPR) Ngawi Mohammad Sadli mengatakan jika pihaknya pernah merencanakan pembangunan jembatan tersebut. Namun, sayangnya lokasinya berada di dusun, jalannya pun bukan jalan kabupaten melainkan jalan desa.
“Ini yang agak sulit bagi kami ya. Karena pada dasarnya ketika jembatan itu jadi kan menghubungkan jalan desa. Dan lokasi yang sama seperti itunada di bebrrapa titik di Ngawi yang dilaluk Bengawan Solo,” kata Sadli pada beritajatim.com, Selasa (11/7/2023).
Meski begitu, pihaknya masih akan mencoba mengajukan permohonan hibah jembatan gantung pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Karena jembatan gantung sudah dibangun di Desa Karangbanyu yang bertetangga dengan Desa Sidolaju.
“Ya nanti coba kami usulkan karena ya itu tadi, kami sendiri agak sulit ketika jalan itu adalah jalan desa. Serta, bukan prioritas karena semisal lewst situ tidak bisa kan memutarnya sekitar 5 kilometer sampai 10 kilometer saja,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, warga Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi membuat jembatan bambu untuk menyeberangi Bengawan Solo. Mereka membuat jembatan darurat karena perahu penyeberangan rusak sejak beberapa hari terakhir.
Perahu rusak itu sebelumnya biasa digunakan warga Dusun Sidolaju dan Desa Gembol, Kecamatan Karanganyar untuk menuju Pasar Sidolaju dan sekolah di Dusun Sidorejo. Perahu itu juga jadi sarana satu-satunya warga menyeberang ke dusun sebelah.
Tanpa perahu, warga harus memutar sejauh 8 hingga 10 Kilometer menuju jembatan terdekat. Hal itu tentu menyulitkan warga, terutama anak sekolah.
Sidarta (38), warga Desa Gembol, Kecamatan Karanganyar mengaku biasa menggunakan perahu untuk menyebrang menuju Pasar Sidolaju di Jalan Raya Ngawi-Solo. Cukup dekat, hanya satu kilometer jika perahu bisa digunakan. “Tapi saat ini perahu rusak, banyak bocornya sehingga harus diperbaiki. Namun, perbaikan juga butuh waktu, sehingga masyarakat bikin jembatan bambu,” kata Sidarta saat ditemui di Sidolaju, Selasa (27/6/2023).
Pun, Rohim, operator perahu mengatakan jika kondisi perahu sudah tidak memungkinkan digunakan menyeberang. Karena sudah bocor di mana-mana. Jika dipaksa digunakan terus, perahu bisa tenggelam. “Ya kapasitasnya mencapai 20 motor, kalau orang ya bisa puluhan. Tapi, kondisi perahu ini sudah tak memungkinkan. Perlu direhab dulu. Sementara, warga harus bikin jembatan. Kira-kira panjangnya 50 meter lebih. Dengan lebar 2 meter. Pakai bambu dan ini swadaya masyarakat,” kata Rohim.
Diperkirakan, jembatan itu membutuhkan 3 truk bambu atau setara dengan 1.500 batang. Saat ini, sekitar 10 orang warga menggarap jembatan tersebut. Sekitar 10 hari dibutuhkan untuk menyelesaikan jembatan bambu. “Risikonya kalau banjir ya pasti hilang. Ya semoga tidak ada banjir ya. Sehingga masih bisa dilewati sementara perahunya diperbaiki,” pungkasnya. [fiq/kun]
BACA JUGA:






