Yogyakarta (beritajatim.com) – Kerjasama yang mengejutkan antara Anies Baswedan dan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), telah mencuri perhatian publik. Terutama mengingat bahwa PKB sebelumnya telah menyatakan dukungannya terhadap koalisi besar yang terdiri dari PKB, Gerindra, Golkar, dan PAN, yang mendukung Prabowo Subianto.
Kejutan-kejutan semacam ini tampaknya akan terus muncul menjelang penentuan waktu akhir Pilpres 2024 pada bulan Februari mendatang.
Dengan langkah deklarasi ini, dapat dipahami bahwa konfigurasi koalisi politik berada dalam fase perubahan. Nasdem dan PKS bergabung dalam koalisi dengan PKB, sedangkan dukungan dari koalisi besar yang mendukung Prabowo mengalami penurunan.
Namun demikian, para pengamat politik menganggap koalisi yang mendukung pasangan Anies-Cak Imin oleh Nasdem, PKS, dan PKB sebagai hal yang tidak lazim. Ini disebabkan oleh kehadiran PKB dan PKS dalam satu koalisi yang diibaratkan sebagai unsur kimia yang berbeda dan sulit untuk bersatu atau bercampur.
Ahmad Ma’ruf, seorang pengamat politik ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menjelaskan bahwa tindakan politik seperti ini sebenarnya tidaklah mengherankan. Pasalnya, saat ini setiap partai politik tengah mencari keseimbangan dan posisi baru masing-masing. Meskipun begitu, bagi partai atau individu yang telah diberi janji sebelumnya, rasa kekecewaan pasti akan muncul.
“Reaksi paling sensitif muncul dari Demokrat terhadap dinamika ini. Sementara PKS tampaknya lebih tenang, mungkin mereka masih menunggu dan melihat karena sejak awal tidak dijanjikan sebagai calon wakil presiden, sehingga reaksinya tidak sekuat yang ditunjukkan oleh Demokrat,” jelasnya.
Dengan perkembangan ini, Ahmad Ma’ruf menegaskan bahwa peta politik pasti akan mengalami perubahan. Dalam prediksinya, Demokrat kemungkinan besar akan keluar dari koalisi dan kemungkinan besar akan bergabung dengan koalisi PDIP.
Lebih lanjut, Ma’ruf menyatakan bahwa peran Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam dinamika politik ini tidak dapat diabaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena turut berkontribusi pada peristiwa politik saat ini.
Dalam konteks ini, Ma’ruf mengungkapkan bahwa dirinya tidak merasa terkejut ketika Surya Paloh secara resmi menyatakan dukungannya untuk Cak Imin. Pada situasi ini, posisi PKS menjadi terkunci, dan mereka harus menerima keadaan tersebut.
Sementara Demokrat masih memiliki peluang untuk bergabung dengan koalisi lainnya. Namun, PKS mungkin akan menghadapi keterbatasan dalam pilihan koalisinya. “PKS berada dalam posisi yang sulit. Jika mereka tidak mendukung Anies-Cak Imin, maka dengan siapa mereka akan berkoalisi? Bergabung dengan PDIP untuk mendukung Ganjar tidak mungkin, dan mendukung koalisi Prabowo juga sulit karena ada partai Gelora di sana,” tegasnya.
Kendati demikian, dalam koalisi yang mendukung Anies-Cak Imin, PKS sendiri juga mungkin merasa kurang nyaman. Hal ini disebabkan oleh keberadaan Nasdem, PKS, dan PKB dalam satu koalisi yang dianggap memiliki unsur keanehan.
“PKS terjepit dalam situasi ini. Nasdem tidak mengalami perkembangan yang signifikan, dan berkoalisi dengan PKB juga tidaklah mudah. Menurut saya, koalisi antara PKS dan PKB adalah seperti mencampur dua unsur kimia yang berbeda dan sulit disatukan,” terangnya lagi.
Demokrat juga terlihat berkomunikasi dengan dua koalisi yang berbeda, baik dengan Ganjar Pranowo maupun Prabowo Subianto. Meski begitu, dari segi logika, Demokrat cenderung akan bergabung dengan Ganjar Pranowo daripada Prabowo Subianto, mengingat sejarah dan kedekatan ideologi militer keduanya.
Ma’ruf juga menegaskan bahwa sejak awal koalisi antara Nasdem, PKS, dan Demokrat tampak tidak harmonis karena penundaan deklarasi calon wakil presiden (Cawapres) Anies Baswedan. “Pengunduran deklarasi Cawapres yang terus-menerus memberikan sinyal apa? Menurut saya, puncaknya adalah ketika duet Anies dan Cak Imin diumumkan,” tegasnya.
Dia pun mengingatkan kita sebagai warga untuk menikmati dinamika politik yang semakin seru ini. “Sebaiknya kita tidak menjadi fanatik pada satu calon tertentu, karena peta politik ternyata dapat berubah dengan cepat. Gambar yang baru saja dicetak dapat turun lagi,” tutupnya. (aje/kun)
BACA JUGA: Pilih Cak Imin Cawapres, Demokrat: Anies Khianati Piagam Koalisi Perubahan






