Politik Pemerintahan

Bupati Anas Beberkan Cara Kalahkan Petahana dalam Pilkada

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Jember (beritajatim.com) – Bagaimana cara mengalahkan kandidat kepala daerah petahana dalam sebuah pemilihan? Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan tips berdasarkan pengalamannya saat mengalahkan petahana Ratna Ani Lestari pada 2010.

“Saya dulu untuk melawan incumbent, prosesnya dua tahun. Itu pun setelah melihat survei, elektabilitas incumbent masih sangat tinggi, saya sangat rendah,” kata Anas dalam diskusi mengenai pemilihan kepala daerah di Gedung Sutardjo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (7/3/2020).

Namun, Anas tak patah arang. “Antara dunia langit dengan dunia darat harus dijadikan satu. Kalau dunia langit bagus, tapi dunia darat becek ya tidak bisa maju. Kalau kata dukun bagus, daratnya jelek, ya tidak bisa juga,” katanya berseloroh.

Saat itu, sejumlah kiai meminta Anas maju. “Saya tidak mungkin mengedepankan kiai berbenturan dengan partai politik. Saya harus bekerja dulu. Jangan orang yang mendukung berada di depan,” katanya.

“Maka begitu survei, kelihatan (elektabilitas) saya rendah. Saya dikasih rekomendasi A,B C, D. Maka saya tidur di kampung-kampung selama hampir dua tahun untuk mengalahkan incumbent waktu itu. Karena tidak bisa kita mengalahkan incumbent, (tapi) kita tidak turun (menemui masyarakat). Kalau tidak populer, tidak bisa. Maka saya turun waktu itu untuk mengalahkan incumbent,” kata Anas.

“Saya keliling, bermalam sampai subuh. Ke pasar subuh. Saya keliling terus untuk mencuri hati rakyat. Saya boleh punya visi bagus. Tapi kalau rakyat tidak kenal, rakyat tidak memilih saya,” kata Anas.

Langkah Anas ini dipantau oleh lembaga survei yang menjadi konsultan. “Mereka mengatakan: kalau dalam dua tiga bulan, angka (dalam survei) naik, Bapak boleh diteruskan. Tapi kalau angkanya tidak naik, jangan diteruskan,” kata Anas.

Anas sangat memperhatikan hasil survei dan saran konsultan, karena dalam pilkada terkadang terjadi paradoks. “Orang yang hebat berkualitas, tapi kalau elektabilitasnya rendah, partai tidak mau mencalonkan,” katanya.

“Kesimpulan saya, kualitas dan elektabilitas harus berjalan paralel. Pada waktunya saya tidak mencari partai dulu. Saya mencari elektabilitas dulu. Karena kalau saya cari partai dulu, elektabilitas rendah, cost saya banyak. Tapi kalau elektabilitas saya tinggi, pada waktunya partai politik akan datang kepada saya,” kata Anas.

Saat ini calon-calon kepala daerah bermunculan. “Di Indonesia, ada tokoh-tokoh muda yang bermetamorfosis karena era demokrasi yang luar biasa, yakni pemilihan langsung. Rakyat memiliki ruang seluas-luasnya untuk memilih calon,” jelasnya Anas.

Banyaknya calon yang muncul ini adalah sebuah kewajaran. “Karena sajadah yang lebar, tempat yang nyata untuk beribadah salah satunya adalah menjadi bupati,” kata Anas.

Menurut Anas, detil eksekusi pembangunan ada pada pemerintah daerah. “Bagaimana ke depan, daerah bisa menyiapkan orang yang bisa mengeksekusi sesuai kebutuhan daerahnya. Ingat kebutuhan Jember berbeda dengan kebutuhan Banyuwangi dan seterusnya,” katanya. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar