Jember (beritajatim.com) – Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar bersaing ketat dengan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam merebut suara kaum perempuan di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sunarsi Horis, Wakil Ketua Fatayat Cabang Kencong, Kabupaten Jember, menyebut kecenderungan kaum perempuan Nahdlatul Ulama mendukung pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, dalam pemilihan presiden.
“Santri akan memilih santri. Dari tiga itu, sudah jelas (mana yang santri). Pak Anies masuk dalam kriteria seorang pemimpin, dalam kriteria agama. Dalam memilih pemimpin kan nomor satu berdasarkan agama. Kalau agamanya bagus, masalah apapun insyaallah persoalan apapun mudah diselesaikan,” kata Horis, ditulis Kamis (23/11/2023).
Saat ini, menurut Horis, anggota Fatayat NU Cabang Kencong lebih cenderung memilih Anies. NU Cabang Kencong meliputi lima kecamatan di Jember, yakni Kecamatan Kencong, Kecamatan Gumukmas, Kecamatan Puger, Kecamatan Umbulsari, dan Kecamatan Jombang.
Kendati menjadi bagian dari Kabupaten Jember, Pengurus Besar NU memberikan keistimewaan kepada NU Kencong untuk memiliki kepengurusan tingkat cabang lengkap dengan badan otonom tersendiri karena faktor sejarah. Berdiri pada 21 September 1937, NU Kencong dianggap lebih tua daripada Pengurus Cabang NU Jember.
Kecenderungan perempuan NU memilih Anies-Muhaimin alias Amin, menurut Horis, bisa dipahami, karena organisasi tersebut bergerak di bidang sosial keagamaan. “Jadi lebih cenderung ke situ,” kata perempuan yang juga legislator Partai Kebangkitan Bangsa di DPRD Jember ini.
Namun, Horis mengingatkan, saat ini kampanye Amin masih lebih menyentuh kalangan menengah ke atas. Kalangan menengah ke bawah masih belum banyak tersentuh. “Karena sosialisasi masih belum maksimal. Kemarin kan baru selesai mengundi nomor urut peserta,” katanya.
Kalangan bawah, menurut Horis, harus diyakinkan juga soal koalisi antara Partai Kebangkitan Bangsa yang berbasis nahdliyyin dengan Partai Keadilan Sejahtera yang berbasis Islam modernis. “Setelah diberikan pemahaman, mereka bisa mengerti,” katanya.
Lawan berat Anies-Muhaimin untuk merebut simpati kaum perempuan nahdliyyin di Jember adalah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. “Orang di bawah tidak melihat siapa Gibran, tapi Prabowo,” kata Horis.
Pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD juga berpotensi dilirik kaum perempuan NU. “Tapi orang melihatnya ke Pak Mahfud, bukan Pak Ganjar,” kata Horis.
Horis saat ini terus bergerak di kalangan perempuan NU agar Anies-Muhaimin menang di Jember. Langkah paling dekat adalah mengumpulkan para nyai yang menjadi pengasuh pondok pesantren. Menurutnya, secara organisasi, Fatayat dan Muslimat harus netral. Namun sebagai individu, semua pengurus berhak memiliki preferensi dan opsi politik.
Menurut Horis, permintaan kaum perempuan tidak terlalu banyak. “Kami hanya ingin agar harga-harga barang kebutuhan pokok yang sekarang serba mahal diturunkan lebih murah. Di situ dibutuihkan perubahan. Dengan perubahan, semua terjadi kemudahan,” katanya.
Horis yakin Anies setidaknya bisa memperoleh dukungan setidaknya 40 persen pemilih perempuan di Jember. Ia menyadari karakter pemilih perempuan cenderung fanatik pada satu tokoh. Maka diperlukan pendekatan intensif agar target kemenangan Anies-Muhaimin bisa dicapai. [wir]






