Warna merah jambon bikin Rizky Biebier kesal. “Ngapain sih sik ono warna pink nang endi-endi? Maksudku, okelah kalau memang itu dibuat program pemilu yang brand identity, colour identity. It’s okay, Tapi cukup, wis. Wis menang (pilkada), wis menjabat kok iso pancet digawe warna pink. Maksude opo?”
Rizky bukan satu-satunya orang yang tidak nyaman dengan eksesifnya penggunaan warna merah jambon di Kabupaten Jember, Jawa Timur, belakangan ini. Setidaknya itu terlihat dari video omelannya yang diunggah di Instagram pada 31 Desember 2025, yang disukai lebih dari 38 ribu orang dan menuai 2.421 komentar.
Nurhuda Candra Hidayat, anggota Komisi B DPRD Kabupaten Jember dari Partai Kebangkitan Bangsa, salah satu partai pendukung Fawait, sempat meminta agar 2.500 unit gerobak dan rombong yang hendak dihibahkan kepada pedagang kecil tidak dicat warna merah muda.
“Tolonglah, jangan nanti gerobaknya dicat pinky semua. Ini seolah-olah kampanye terselubung untuk selanjutnya. Takutnya ke situ,” kata Nurhuda, sebagaimana dilansir Beritajatim.com, 5 November 2025.
Tentu saja harapan Nurhuda bertepuk sebelah tangan. Ribuan gerobak dan rombong itu tetap dicat warna merah muda, sama halnya dengan warna baliho yang menampilkan pose tunggal Bupati Fawait maupun bersama Wakil Bupati Djoko Susanto, warna bagian atap kantor Bandara Notohadinegoro, hingga nasi tumpeng yang biasanya berwarna kuning.
Sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Bupati Muhammad Fawait yang akrab disapa Gus Bupati itu memang menunjukkan kesukaannya terhadap warna merah muda. Dia senang berbusana warna itu dalam banyak kesempatan. Kompak dengan sang bupati, nuansa merah muda kental dijumpai dalam sejumlah acara Pemerintah Kabnupaten Jember.
Terakhir, delapan ribu orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu berkumpul di Stadion Jember Sport Garden, 23 Desember 2025, dengan mengenakan kaos merah muda. “Ini adalah warna perjuangan kita,” kata Fawait dalam pidatonya.
Merah jambon adalah warna identitas Muhammad Fawait dan Djoko Susanto saat bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah Jember pada 2024. Warna itu dianggap identik dengan slogan yang diusung Fawait-Djoko: semua karena cinta.
Penggunaan warna itu diusulkan oleh istri Fawait, Ghyta Eka Puspita, seorang lulusan pascasarjana bidang manajemen pemasaran. “Warna pink itu sebetulnya dulu karena kita sempat mau berkoalisi antara Gerindra dan PDI Perjuangan. Putih dan merah digabung jadi pink,” kata Fawait, dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di gedung Rektorat Universitas Jember, 6 Oktober 2025.
“Alhamdulillah, warna pink dipercaya oleh masyarakat Jember. Hari ini akhirnya anak desa pertama kali, anak pelosok, ditakdir menjadi Bupati Jember,” kata Fawait.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Ikwan Setiawan menilai langkah Fawait mempertahankan warna merah jambon seusai pilkada adalah strategi politik yang bagus. “Dia berusaha menggeser warna tersebut menjadi identik dengannya,” katanya, Minggu (18/1/2026).
Namun, Ikwan mengingatkan, dominasi warna jambon di ruang publik cenderung memunculkan polusi visual. “Mencemari ruang publik secara visual,” katanya.
Dari kalangan pendukung Fawait-Djoko, kritik terhadap penggunaan warna merah muda mulai muncul. Jumantoro, seorang tokoh petani yang getol mendukung duet tersebut saat pilkada, mempertanyakan penggunaan foto Bupati Fawait dan Wabup Djoko yang mengenakan kemeja warna merah muda dalam baliho resmi Pemkab Jember.
“Seolah-olah kebersamaan Bupati dan Wakil Bupati hanya sah dalam konteks pemenangan politik, bukan dalam konteks menjalankan roda pemerintahan,” kata Jumantoro.
Fawait sendiri menanggapi ringan urusan warna ini. “Itu hal yang wajar. Itu bagian dari subjektivitas. Kalau di Jakarta ada ada warna biru, di kita ada warna merah muda. Saya pikir itu bagian dari kesukaan warna saja,” katanya tersenyum.
Fawait memandang warna merah muda punya makna mendalam. “Pemaknaannya adalah penuh cinta dan dengan cinta pendapatan asli daerah kita naik dan dengan cinta kita banyak melakukan terobosan,” katanya.
Ikwan sepakat dengan anggapan bahwa masalah warna adalah soal pilihan belaka. Namun dia mengingatkan, jika Fawait tak berhati-hati, dampak warna merah muda akan kontraproduktif dan memunculkan ketidaksukaan publik.
“Ada titik jenuh. Ini yang kurang menarik, seolah-olah Jember itu satu warna. Apalagi di era seperti ini, orang sudah memiliki kesadaran (politik),” katanya.
Kesadaran politik itu yang ditunjukkan orang seperti Rizky Biebier dalam akun media sosialnya. “Aku rakyat, dan aku ini orang yang support siapapun pemimpinnya. Tapi kalau kebangetan, wajar dong aku mengomentari,” katanya.
Dari sini, Ikwan menyarankan, Fawait dan tim medianya untuk memantau sentimen negatif di media sosial dan mulai berpikir ulang. “Silakan dia pakai itu, tapi jangan semua diseret ke satu warna. Jangan overdosis,” kata Ikwan.
Atau jangan-jangan seperti kata Rizky Biebier: Apakah Jember hendak dibikin jadi Inter Miami, klub sepak bola Amerika Serikar yang diperkuat Lionel Messi dan identik dengan jersey warna merah muda itu. [wir]






