Ada dua tren perayaan kemenangan oleh suporter yang menjadi viral selama Piala Dunia 2026: gaya dayung ala Viking oleh suporter Norwegia dan nyanyian lagu Wonderwall di setiap akhir pertandingan tim nasional Inggris.
Dua gaya perayaan ini melibatkan pemain tim nasional masing-masing. Usai pertandingan, para pemain Norwegia duduk berbaris di hadapan ribuan suporter mereka yang juga melakukan aksi yang sama: seolah-olah mendayung sembari berteriak ‘hu’ dengan dikomando gebukan model stakato di atas bass drum (biasanya) oleh Erling Haaland.
Sementara itu suporter dan pemain Inggris menyanyikan reffrain lagu Wonderwall yang biasa dinyanyikan grup musik Manchester, Oasis. Berbeda dengan perayaan ala pelaut Viking yang lebih organik, penggunaan nyanyian Wonderwall diawali oleh pemutaran lagu itu oleh penyelenggara.
Lagu Wonderwall memang satu dari tiga lagu (selain Hey Jude dan Sweet Caroline) yang disodorkan Football Association kepada FIFA untuk diputar setiap kali Inggris bertanding. Namun Wonderwall pada akhirnya lebih disukai daripada dua lagu yang lain, mungkin bukan hanya karena nadanya yang riang gembira (kalau ini Hey Jude lebih menjanjikan), namun karena liriknya yang mengandung doa dan pengharapan.
Lagu itu, tanpa disengaja, menggambarkan dengan tepat perjalanan tim nasional Inggris selama enam dekade untuk menjadi juara dunia kembali.
And all the roads we have to walk are winding
And all the lights that lead us there are blinding
Dan jalan yang harus kita tempuh itu berliku-liku
Dan cahaya yang menuntun kita ke sana begitu menyilaukan
Dan memang begitulah adanya sejarah sepak bola Inggris di Piala Dunia. Mereka terakhir menjadi juara dunia pada 1966 saat menjadi tuan rumah, dan itu pun dipenuihi kontroversi.
Pertama, trofi Jules Rimet sempat raib dari museum saat dipamerkan dan untungnya ditemukan seekor anjing bernama Pickles. Berikutnya adalah kontroversi pertandingan Inggris melawan Argentina yang lebih layak disebut adu gebuk daripada sepak bola yang membuat pelatih Inggris Alf Ramsey menyebut pemain Argentina ‘binatang’.
Kontroversi terakhir tentu saja pertandingan final antara Inggris melawan Jerman Barat yang diwarnai gol meragukan yang dicetak oleh Geoff Hurst. Bola yang ditendangnya ke arah gawang Jerman Barat sempat membentur mistar, memantul ke garis gawang, dan keluar, yang kemudian disahkan sebagai gol oleh wasit Gottfried Dienst.
Dan boleh dibilang, itulah gol yang paling diragukan sepanjang sejarah final Piala Dunia. Jerman Barat berkeyakinan, jika saja gol itu tak disahkan, pertandingan bisa berjalan berbeda dengan hasil yang tak sama dengan yang dicatat buku sejarah hari ini.
Sejak saat itu, Inggris tak pernah lagi menikmati gelar juara dunia, Menembus empat besar pun mereka kesulitan. Mereka baru bisa menembus empat besar pada Piala Dunia 1990, 2018, dan 2026. Bahkan pada 1974, 1978, dan 1994, mereka gagal lolos dari babak kualifikasi.
Lagu Wonderwall pun terasa lebih rendah hati dan tidak seambisius lagu Three Lions‘ bikinan kelompok musik The Lighting Seeds bersama David Baddiel dan Frank Skinner yang populer pada saat Inggris jadi tuan rumah Piala Eropa 1996.
Lirik lagu Three Lions murni berisi tentang sepak bola. Diawali dengan lantunan optimisme (mungkin karena Inggris bermain di kandang dan tahun itu bertepatan dengan 30 tahun usia kejayaan Inggris di Piala Dunia).
We still believe, we still believe
We still believe, we still believe
Dan kemudian diwarnai dengan puja-puji untuk para pemain timnas Inggris.
Talk about football coming home
And then one night in Rome
We were strong, we had grown
And now I see Ince ready for war
Gazza good as before, Shearer certain to score
And Psycho screaming
Three lions on a shirt
Jules Rimet still gleaming
No more years of hurt
No more need for dreaming
Ini berbeda dengan Wonderwall yang dipenuhi metafora. Bahkan kosakata itu tak ada dalam kamus resmi Bahasa Inggris, walau kalau dipaksa-paksa bisa saja dialihbahasakan menjadi ‘Dinding Ajaib’. Namun apapun artinya, agaknya semua fans Inggris memiliki tafsir yang sama terhasap lagu itu.
Mereka menyanjung para pemain Inggris tampa harus terperosok menjadi pongah. Dan penggunaan kata ‘maybe’ atau ‘mungkin’ di sini menunjukkan bahwa mereka sudah kapok untuk sok mendahului kehendak takdir.
There are many things
that I would Like to say to you,
but I don’t know how
Because maybe,
you’re gonna be the one that saves me
And after all,
you’re my wonderwall
Ada banyak hal
yang ingin kusampaikan padamu,
namun aku tak tahu caranya
Karena mungkin,
kaulah sosok yang akan menyelamatkanku
Dan bagaimanapun juga,
kaulah tembok ajaibku
Penggunaan ‘kau’ dan ‘wonderwall’ sangat terang benderang ditujukan kepada para pemain timnas Inggris, yang mungkin akan menyelamatkan sepak bola Inggris.
Tak ada lagi sesumbar ‘sepak bola akan pulang kampung’. Hanya harapan dan kemungkinan-kemungkinan.
Dan, entahlah, apakah ini bakal menjadi pertanda yang menyenangkan bagi rakyat Inggris, bahwa Ahad malam, 19 Juli 2026 nanti adalah akhir pencarian oasis selama enam dekade. [wir/ian]






