Sejarah mencatat, Norwegia hanya tiga kali lolos kualifikasi Piala Dunia, yakni 1938, 1994, dan 1998. Prestasi terbaik mereka lolos ke Babak 16 Besar pada Piala Dunia 1998, Namun penulis sepak bola kelahiran Hungaria Bence Bocsák memasukkan Norwegia sebagai bagian dari apa yang menjadi judul bukunya: Rise of the Underdogs: Football’s New World Order.
Ketika buku ini diterbitkan oleh Pitch Publishing pada awal Juni 2024, Norwegia bahkan belum melakoni pertandingan kualifikasi Zona Eropa. Erling Haaland dan kawan-kawan baru memulai pertandingan Grup I pada 22 Maret 2025 dengan menaklukkan Moldova 5-0 dalam laga tandang.
Orang lebih memperhitungkan Italia yang bakal lolos dengan status juara grup. Saat itu Gli Azzuri menduduki peringkat sembilan dunia, sementara Norwegia hanya berada di peringkat ke-29.
Namun Norwegia membuat peringkat FIFA hanya tempelan kertas, dengan mengalahkan Italia dengan agregat 7-1 (3-0 di kandang sendiri dan 4-1 dalam laga tandang).
Maka saat Norwegia lolos ke perempat final, buku Bocsák menjadi relevan untuk dibaca kembali. Juga sejumlah buku yang mengungkapkan profil delapan perempatfinalis Piala Dunia 2026.
1. Prancis
Va-Va-Voom: The Modern History of French Football karya Tom Williams (2024)
Buku ini menceritakan evolusi sepak bola Prancis selama empat dekade terakhir berdasarkan wawancara dengan sejumlah pemain seperti Alain Giresse, Jean-Pierre Papin, Emmanuel Petit, dan Blaise Matuidi, Michel Platini, Thierry Henry, Karim Benzema.
Williams tak hanya bicara soal sepak bola di lapangan, namun juga menyentuh aspek taktis, teknis, maupun budaya. Dan dari sana kita tahu bahwa sepak bola Prancis tak hanya menghadirkan drama di dalam lapangan, tapi juga ceerita pengaturan skor, rekaman seks, dan kekacauan internal di dalam skuad nasional Piala Dunia 2010 yang membuat pemerintah terpaksa turun tangan.
2. Maroko
Yalla!: The Turbulent History of Arab Nations at the World Cup karya Ali Khaled (2026)
Yalla adalah kosakata Arab yang artinya kurang lebih ‘ayo!’ atau ‘come on’. Buku ini tidak spesifik bicara soal sepak bola Maroko, namun perjalanan sejumlah tim Arab Afrika dalam Piala Dunia sejak 1934. Khaled menuturkan bagaimana tim-tim Arab menghadapi tantangan berat. Buku ini mengupas latar belakang budaya, politik, dan aspek olahraga dari pertandingan-pertandingan Piala Dunia yang dikuti tim-tim Arab, termasuk Maroko. “Saya berusaha menuliskannya seadil mungkin,” katanya.
3. Spanyol
Morbo: The Story of Spanish Football katya Phil Ball (2011)
Ada banyak buku tentang sepak bola Spanyol yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tak hanya soal sejarah sepak bola negeri itu, tapi juga biografi klub sepak bola, terutama rivalitas Barcelona dan Real Madrid.
Morbo menelusuri keragaman dan kekayaan sejarah sepak bola Spanyol, termasuk asal-usulnya dan cerita soal para pekerja tambang tembaga milik perusahaan Inggris di Huelva, Andalusia. Ini membuat kita memahami bahwa Spanyol bukan hanya Barcelona dan Madrid. Ini bukan hanya sepak bola. Tapi juga sosial, politik, dan budaya, teurtama di sebuah negeri yang pernah dicengkeram puluhan tahun oleh kekuasaan fasisme.
4. Belgia
Golden: Why Belgian Football is More Than One Generation karya Phil Spencer (2022)
Sepak bola Belgia selama bertahun-tahun inferior di hadapan sang tetangga Belanda. Belanda menghadirkan nama-nama ternama dan mewariskan Total Football untuk publik sepak bola dunia. Sementara Belgia, walau termasuk negara Eropa pertama yang menjadi partisipan Piala Dunia pada 1930, sama sekali tidak diperhitungkan.
Sampai kemudian hadirlah generasi emas seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku, dan Belgia merebut medali perunggu Piala Dunia FIFA 2018. Orang terpesona, dan penasaran sampai sejauh mana generasi emas ini akan melangkah.
Namun dalam buku ini Phil Spencer menunjukkan, bahwa apa yang dicapai Belgia hari ini adalah bagian dari sejarah panjang perjalanan sepak bola negeri itu. Menurutnya, kesuksesan Belgia hari ini bisa dilacak jejak sejarahnya dari kejayaan klub-klub Belgia di level Eropa. Akademi mengambil peran penting, selain perjuangan para pelaku sepak bola menghadapi krisis keuangan dan skandal pengaturan skor.
5. Norwegia
Rise of the Underdogs: Football’s New World Order karya karya Bence Bocsák (2024)
Bocsák menyebutkan 21 negara dan sebuah klub yang mewakili ‘kebangkitan kaum yang pinggiran’. Tim-tim yang diplih Bocsák ini memang selama ini tidak diperhitungkan sebagai kekuatan sepak bola internasional yang lebih banyak didominasi tim dari Eropa dan atau Amerika Selatan.
Beberapa di antaranya tercatat sebagai peserta Piala Dunia 2026: Kanada, Pantai Gading, Kroasia, Jepang, Norwegia, Ekuador, Australia, Maroko, Mesir, Arab Saudi, dan Uzbekistan. Dan dua di antaranya yang lolos ke perempat final.
Dalam buku ini, Bence Bocsák melacak akar-akar kebangkitan Norwegia di tengah keterbatasan kondisi alam yang tak bersahabat dengan sepak bola. Dimulai dari pencarian bakat yang menemukan sejumlah pemain muda yang hari ini menjadi penopanh tim nasional Norwegia. Bukan hanya Haaland, tapi juga Martin Odegaard.
6. Inggris
The Anatomy of England: A History in Ten Matches karya Jonathan Wilson (2010)
Jurnalis sepak bola Jonathan Wilson memilih memilih sepuluh pertandingan tim nasional Inggris untuk menceritakan perkembangan sepak bola negara yang senantiasa mengklaim sebagai penemu sepak bola modern itu.
Dibuka dengan kekalahan Inggris dari Spanyol di Madrid pada 15 Mei 1929, Wilson memberikan tempat spesial untuk Jerman (Barat) dengan menuliskan pertandingan kedua tim pada 29 April 1972 dan 4 Juli 1990. Pertandingan melawan Argentina juga dituliskan, namun bukan pertandingan melawan Maradona pada 1986, melainkan pertandingan pada Piala Dunia 1966 saat Inggris juara.
Wilson berusaha keras untuk menyingkirkan mitos, spekulasi, dan ingatan pribadi untuk mengungkap fakta pertandingan yang sebenarnya. Dia juga menelusuri bagaimana peristiwa di lapangan tersebut membentuk masa depan sepak bola Inggris.
7. Swiss
Origin Stories: The Pioneers Who Took Football to the World karya Chris Lee (2021)
Buku ini tidak spesifik menceritakan sepak bola Swiss, namun perkembangan awal sepak bola di sejumlah negara di dunia. Swiss bukanlah negara dengan kultur sepak bola yang kuat. Namun badan sepak bola dunia FIFA bermarkas di sini, dan sejumlah tokoh memainkan peran penting dalam perkembangan sepak bola dunia. Sebut saja Eduardo Bosio yang mendirikan klub sepak bola pertama Italia di Turin. Atau Hans Mas Gamper-Haessig yang menjadi salah satu pendiri FC Barcelona.
8. Argentina
Argentina, a Tale of Two Utopias: Anarchism, Soccer, Neoliberalism oleh Tomas Rothaus (2026)
Buku ini menarik karena mengupas pertemuan ideologi anarkisme dengan sepak bola di tengah krisis neoliberalisme. Tak hanya bercerita soal sepak bola, buku ini menuturkan pergolakan Desember 2001 di Argentina yang menandai berakhirnya eksperimen neoliberal era1990-an.
Rothaus mengajak pembacanya untuk menelusuri sejarah gerakan anarkis Argentina dan trauma akibat berbagai rezim diktator yang pernah berkuasa di Argentina. Perlawanan rakyat dipertemukan dengan riuh pertandingan sepak bola, dilengkapi dengan foto-foto dan ilustrasi.
Selain delapan buku di atas, ada sejumlah buku lain yang menarik soal Piala Dunia, di antaranya Thirty-One Nil: On the Road With Football’s Outsiders:, A World Cup Odyssey karya James Montague yang terbit pada 2014.
Montague adalah satu dari sedikit jurnalis sepak bola favorit saya. Dia berpetualang ke banyak negara untuk menghirup udara di sana, mengudap makanan dan meneguk minuman setempat, dan berbicara dengan warga lokal untuk menulis makna sepak bola, terutama Piala Dunia di mata mereka.
Buku ini menceritakan perjuangan timnas sejumlah negara yang tidak diperhitungkan dalam Piala Dunia dan berjuang mempertahankan eksistensi mereka di tengah pergolakan politik dan sosial. Namun kita akan menceritakannya lain waktu. [wir/kun]






